Sahih al-Bukhari
Sahih al-Bukhari 839, 840
Telah menceritakan kepada kami ʿAbdan berkata, telah mengabarkan kepada kami ʿAbdullah berkata, telah mengabarkan kepada kami Maʿmar dari Az-Zuhri berkata, telah mengabarkan kepadaku Maḥmud bin Ar-Rabiʿ dan dia mengaku bahwa dia memahami (gerak-gerik) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan juga memahami ludahan yang beliau keluarkan dari ember yang ada di rumah mereka. Dia berkata; Aku mendengar ʿItban bin Malik Al-Anshari, salah seorang dari Bani Salim berkata; Aku biasa mengimami kaumku Bani Salim. Suatu hari aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata; Sesungguhnya aku telah kehilangan penglihatanku, dan sungai-sungai (banjir) sering menghalangi antara aku dan masjid kaumku. Aku ingin sekali engkau datang dan shalat di rumahku pada suatu tempat, hingga aku menjadikannya sebagai masjid. Maka beliau bersabda: “Aku akan lakukan, insya Allah.” Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar datang menemuiku setelah siang semakin panas. Beliau meminta izin masuk, maka aku izinkan. Beliau tidak duduk sehingga bertanya: “Di mana kamu suka aku shalat di rumahmu?” Lalu kutunjukkan kepada beliau tempat yang kusukai untuk beliau shalat di situ. Maka beliau berdiri lalu kami membuat barisan di belakangnya, kemudian beliau salam, dan kami pun salam ketika beliau salam.
Panggilan untuk Sholat (Adhaan) - Sahih al-Bukhari 839, 840
Narasi ini dari ῾Itbān bin Mālik al-Anṣārī menunjukkan beberapa prinsip penting dalam yurisprudensi Islam. Penerimaan Nabi untuk sholat di rumah pribadi menetapkan kebolehan mendirikan sholat berjamaah di luar masjid ketika diperlukan, menunjukkan fleksibilitas dan kemudahan dalam Syariah.
Formasi para Sahabat di belakang Nabi menggambarkan konfigurasi yang tepat dari sholat berjamaah, dengan imam berdiri di depan dan pengikut sejajar di belakangnya. Narasi ini juga menunjukkan keabsahan menunjuk tempat untuk sholat (musallā) dalam tempat tinggal seseorang.
Para ulama menyimpulkan dari hadis ini bahwa adalah terpuji untuk mengunjungi orang sakit dan lanjut usia yang tidak dapat menghadiri masjid secara teratur. Pertimbangan Nabi terhadap gangguan penglihatan ῾Itbān dan kesulitan mencapai masjid mencerminkan akomodasi Islam bagi orang dengan disabilitas.
Kehadiran Abū Bakr al-Ṣiddīq menekankan pentingnya para sahabat menemani Nabi dalam urusan agama. Waktu "setelah matahari telah naik tinggi" merujuk pada periode Duḥā, menunjukkan kebolehan sholat sunnah selama waktu ini.