Sahih al-Bukhari
Sahih al-Bukhari 848
Tinggal Imam di Musalla (tempat shalat) setelah (selesai shalat dengan) Taslim
Teks hadis bahasa Arab
وَقَالَ لَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ نَافِعٍ، قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُصَلِّي فِي مَكَانِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ الْفَرِيضَةَ. وَفَعَلَهُ الْقَاسِمُ. وَيُذْكَرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ لاَ يَتَطَوَّعُ الإِمَامُ فِي مَكَانِهِ. وَلَمْ يَصِحَّ.
Terjemahan
Diriwayatkan Nafi
Adam berkata kepada kami: Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi', ia berkata: Ibnu Umar biasa salat (sunah) di tempat ia salat fardu. Al-Qasim pun melakukan hal yang sama. Dan disebutkan dari Abu Hurairah secara marfu' (disandarkan kepada Nabi): „Seorang imam tidak boleh salat sunah di tempatnya (setelah salat fardu).“ Akan tetapi riwayat ini tidak sahih.