حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ، قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، رضى الله عنهما قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ، وَيَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَيَقُولُ ‏"‏ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‏"‏‏.‏ وَلاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan Abu Qilaba

Saya melihat Malik bin Huwairith mengucapkan Takbir dan mengangkat kedua tangannya (saat memulai shalat dan mengangkat tangannya saat membungkuk dan juga mengangkat kepalanya setelah membungkuk. Malik bin Huwairith berkata, "Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) melakukan hal yang sama."

Comment

Teks Hadis & Referensi

"Saya melihat Malik bin Huwairith mengucapkan Takbir dan mengangkat kedua tangannya (saat memulai shalat, mengangkat tangannya saat rukuk, dan juga saat mengangkat kepalanya setelah rukuk. Malik bin Huwairith berkata, 'Rasulullah (ﷺ) melakukan hal yang sama.'"

Sumber: Sahih al-Bukhari 737

Komentar tentang Raf' al-Yadayn (Mengangkat Tangan)

Riwayat ini menetapkan praktik Sunnah mengangkat kedua tangan selama shalat pada tiga posisi spesifik: pada takbir pembuka (takbirat al-ihram), saat membungkuk ke rukuk, dan saat bangkit dari rukuk ke berdiri. Praktik ini dikenal sebagai Raf' al-Yadayn.

Imam al-Bukhari yang agung memasukkan hadis ini dalam babnya "Panggilan Shalat (Adhaan)" untuk menunjukkan bahwa mengangkat tangan adalah bagian integral dari bentuk shalat yang ditetapkan, terhubung dengan gerakan antar posisi.

Konsensus & Posisi Ulama

Mayoritas ulama klasik - termasuk Imam Malik, al-Syafi'i, dan Ahmad - berpendapat bahwa mengangkat tangan pada tiga posisi ini adalah Sunnah yang dikonfirmasi. Mereka mendasarkan ini pada banyak riwayat otentik dari Nabi (ﷺ) melalui berbagai sahabat.

Beberapa ulama berbeda pendapat mengenai kelangsungan praktik ini setelah zaman Nabi, tetapi bukti tekstual tetap jelas dan meyakinkan bagi mereka yang mengikuti Sunnah yang mapan.

Metode & Cara Mengangkat

Tangan harus diangkat setinggi bahu atau cuping telinga, dengan jari-jari terentang secara alami dan telapak tangan menghadap kiblat. Pengangkatan ini harus bertepatan tepat dengan pengucapan "Allahu Akbar" pada setiap posisi.

Gerakan anggota badan dan lidah yang tersinkronisasi ini menggambarkan sifat komprehensif ibadah Islam, melibatkan baik kemampuan fisik maupun spiritual dalam ketundukan kepada Allah.

Signifikansi Spiritual

Mengangkat tangan melambangkan membuang kekhawatiran duniawi dan berbalik sepenuhnya kepada Allah. Pada permulaan shalat, itu mewakili meninggalkan urusan duniawi. Selama transisi dalam shalat, itu menandakan perpindahan dari satu keadaan kerendahan hati ke keadaan lainnya.

Setiap pengangkatan tangan memperbarui niat dan fokus penyembah, berfungsi sebagai manifestasi fisik dari pendakian spiritual menuju Kehadiran Ilahi.