Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) memasuki masjid dan seseorang mengikutinya. Pria itu berdoa dan pergi kepada Nabi dan menyapanya. Nabi (صلى الله عليه وسلم) membalas salam itu dan berkata kepadanya, "Kembalilah dan shalatlah, karena engkau belum shalat." Pria itu kembali berdoa dengan cara yang sama seperti sebelumnya, kembali dan menyapa Nabi yang berkata, "Kembalilah dan berdoalah, karena kamu belum shalat." Ini terjadi tiga kali. Pria itu berkata, "Demi Dia yang mengutus kamu dengan Kebenaran, aku tidak dapat mengucapkan doa dengan cara yang lebih baik dari ini. Tolong, ajari saya cara berdoa." Nabi (صلى الله عليه وسلم) bersabda, "Ketika kamu berdiri untuk shalat, ucapkan takbir dan kemudian membaca dari Al-Qur'an (tentang apa yang kamu hafal) dan kemudian membungkuk sampai kamu merasa nyaman. Kemudian angkat kepala dan berdiri tegak, lalu sujud sampai Anda merasa nyaman selama sujud, lalu duduklah dengan tenang sampai Anda merasa nyaman (jangan terburu-buru) dan lakukan hal yang sama dalam semua doa Anda.
Panggilan untuk Sholat (Adzan) - Sahih al-Bukhari 757
Rasulullah (ﷺ) memasuki masjid dan seorang pria mengikutinya. Pria itu sholat dan mendatangi Nabi dan menyapanya. Nabi (ﷺ) membalas salam dan berkata kepadanya, "Kembali dan sholat, karena kamu belum sholat." Pria itu kembali sholat dengan cara yang sama seperti sebelumnya, kembali dan menyapa Nabi yang berkata, "Kembali dan sholat, karena kamu belum sholat." Ini terjadi tiga kali. Pria itu berkata, "Demi Dia yang mengutusmu dengan Kebenaran, aku tidak dapat menawarkan sholat dengan cara yang lebih baik dari ini. Tolong, ajari aku cara sholat." Nabi (ﷺ) berkata, "Ketika kamu berdiri untuk Sholat ucapkan Takbir dan kemudian bacalah dari Al-Qur'an Suci (dari apa yang kamu hafal) dan kemudian rukuk sampai kamu merasa tenang. Kemudian angkat kepalamu dan berdiri tegak, kemudian sujud sampai kamu merasa tenang selama sujudmu, kemudian duduk dengan ketenangan sampai kamu merasa tenang (jangan terburu-buru) dan lakukan hal yang sama dalam semua sholatmu.
Komentar Ilmiah
Hadis yang mendalam dari Sahih al-Bukhari ini menunjukkan pentingnya kritis dari pelaksanaan sholat yang benar. Ketulusan Sahabat dalam mencari pengetahuan meskipun koreksi berulang menunjukkan perlunya kerendahan hati dalam ibadah.
Instruksi berulang Nabi untuk mengulang sholat menunjukkan bahwa bentuk eksternal tanpa keadaan internal yang tepat dan tindakan yang ditentukan membuat sholat tidak sah. Penekanan pada "merasa tenang" (tuma'ninah) dalam setiap posisi menyoroti bahwa sholat memerlukan kehadiran hati dan ketenangan tubuh, bukan hanya gerakan terburu-buru.
Instruksi untuk membaca "apa yang kamu hafal" menunjukkan akomodasi untuk kemampuan individu sambil mempertahankan kewajiban pembacaan Al-Qur'an. Urutan berurutan - takbir, pembacaan, rukuk, bangun, sujud, duduk - menetapkan struktur dasar sholat Islam yang tetap tidak berubah hingga hari ini.
Keputusan Hukum yang Diperoleh
Sholat tanpa ketenangan yang tepat (tuma'ninah) tidak sah dan harus diulang.
Setiap posisi sholat harus dipertahankan sampai seseorang mencapai ketenangan tubuh dan kehadiran mental.
Pembacaan minimum yang diperlukan adalah ayat apa pun yang telah dihafal dari Al-Qur'an.
Urutan gerakan sholat yang ditentukan adalah wajib dan tidak dapat diubah.