حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ قَالَ سَعْدٌكُنْتُ أُصَلِّي بِهِمْ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَتَىِ الْعَشِيِّ لاَ أَخْرِمُ عَنْهَا، أَرْكُدُ فِي الأُولَيَيْنِ وَأَحْذِفُ فِي الأُخْرَيَيْنِ‏.‏فَقَالَ عُمَرُ ـ رضى الله عنه ـ ذَلِكَ الظَّنُّ بِكَ
Terjemahan
Diriwayatkan Jabir bin Samura

Abu an-Nu'man menceritakan kepada kami, Abu 'Awanah menceritakan kepada kami, dari 'Abdul Malik bin 'Umair, dari Jabir bin Samurah, dia berkata: Sa'd berkata, "Aku biasa mengimami mereka shalat seperti shalat Rasulullah ﷺ, yaitu dua shalat (Zuhur dan Asar), tanpa menguranginya sedikit pun. Aku memanjangkan dua rakaat pertama dan memendekkan dua rakaat terakhir." Umar radhiallahu 'anhu berkata, "Itulah prasangka kami kepadamu."

Comment

Panggilan untuk Sholat (Adzan)

Sahih al-Bukhari 758

Analisis Teks

Narasi ini dari Sa'd ibn Abi Waqqas menjelaskan metode yang tepat untuk melaksanakan sholat empat rakaat (Zuhr dan 'Asr). Sa'd menegaskan bahwa dia mempertahankan sholat lengkap seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad (ﷺ), tanpa pengurangan dalam komponen-komponen esensialnya.

Perbedaan utamanya terletak pada durasi: memperpanjang dua rakaat pertama dan mempersingkat dua rakaat terakhir. Praktik ini mencerminkan Sunnah di mana bacaan berdiri dalam rakaat awal lebih panjang daripada yang berikutnya.

Komentar Yuridis

Para ulama menyimpulkan dari hadis ini bahwa dua rakaat pertama harus mengandung bacaan Al-Qur'an yang lebih panjang daripada dua rakaat terakhir. Ini berlaku terutama untuk sholat Zuhr dan 'Asr di mana bacaan dilakukan secara diam-diam.

Tanggapan 'Umar menunjukkan verifikasi komunitas terhadap praktik keagamaan, menunjukkan bagaimana para sahabat saling memantau kepatuhan mereka terhadap tradisi Kenabian. Ini menetapkan prinsip saling menyerukan kebaikan dan melarang kejahatan dalam komunitas Muslim.

Signifikansi Spiritual

Pengurangan bertahap dalam panjang sholat melambangkan perjalanan spiritual: dimulai dengan persekutuan yang diperpanjang dengan Allah, kemudian bergerak menuju kesimpulan sambil mempertahankan pengabdian. Struktur ini mengakomodasi baik perendaman spiritual maupun konsistensi praktis dalam ibadah.

Narasi ini menunjukkan pentingnya mempertahankan praktik Kenabian persis seperti yang diajarkan, tanpa inovasi atau kelalaian, sambil memahami kebijaksanaan di balik bentuk-bentuk khusus mereka.