Ayahku berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua rakaat pertama salat Zuhur membaca Al-Fatihah dan dua surah. Beliau memanjangkan pada rakaat pertama dan memendekkan pada rakaat kedua, dan terkadang beliau memperdengarkan ayat. Pada salat Asar beliau membaca Al-Fatihah dan dua surah pada dua rakaat pertama, dan beliau memanjangkan rakaat pertama. Dan beliau memanjangkan rakaat pertama salat Subuh dan memendekkan rakaat kedua.”
Panggilan untuk Sholat (Adzan)
Sahih al-Bukhari 759
Komentar Hadis
Hadis mulia ini dari Sahih al-Bukhari memberikan wawasan mendalam tentang metodologi kenabian dalam pembacaan selama sholat wajib. Utusan Allah ﷺ menetapkan pola yang berbeda untuk sholat yang berbeda, menunjukkan sifat komprehensif dari ibadah Islam.
Dalam sholat Zuhur, pembacaan Al-Fatiha diikuti oleh dua surah tambahan dalam dua rakaat pertama mencerminkan pendekatan yang seimbang untuk sholat tengah hari. Pembacaan yang lebih panjang di rakaat pertama dan lebih pendek di rakaat kedua menciptakan ritme spiritual yang mempertahankan konsentrasi sambil mengakomodasi keadaan penyembah.
Pembacaan yang terdengar kadang-kadang selama Zuhur menunjukkan fleksibilitas dalam Sunnah, karena Zuhur umumnya dianggap sebagai sholat diam. Keadaan terdengar ini sesekali berfungsi sebagai metode pengajaran untuk para sahabat dan menunjukkan bahwa aturan tertentu dalam sholat memiliki variasi yang diizinkan.
Perpanjangan rakaat pertama dalam sholat Asar dan Fajar menekankan pentingnya memulai sholat ini dengan persiapan spiritual yang tepat. Untuk Fajar, pembacaan yang diperpanjang ini memungkinkan penyembah untuk sepenuhnya membangunkan hati mereka pada peringatan Allah di fajar hari baru.
Pendekatan sistematis terhadap panjang pembacaan ini mengajarkan kita tentang kebijaksanaan dalam memvariasikan praktik ibadah sesuai waktu dan keadaan, sambil mempertahankan struktur esensial sholat yang menghubungkan orang beriman dengan Tuhan mereka.