حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالنَّاسُ مَعَهُ، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً، ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهْوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهْوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ، ثُمَّ قَامَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهْوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهْوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهْوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهْوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَفَعَ ثُمَّ سَجَدَ، ثُمَّ انْصَرَفَ، وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ، فَقَالَ ‏"‏ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ ‏"‏‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ شَيْئًا فِي مَقَامِكَ هَذَا، ثُمَّ رَأَيْنَاكَ تَكَعْكَعْتَ‏.‏ فَقَالَ ‏"‏ إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ ـ أَوْ أُرِيتُ الْجَنَّةَ ـ فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا وَلَوْ أَخَذْتُهُ لأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ ‏"‏‏.‏ قَالُوا لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ‏"‏ بِكُفْرِهِنَّ ‏"‏‏.‏ قِيلَ يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ ‏"‏ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، وَلَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ ‏"‏‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan `Imran

Rasulullah SAW berkata, “Saya melihat surga dan melihat bahwa sebagian besar penghuninya adalah orang miskin; dan saya melihat api (neraka) dan melihat bahwa sebagian besar penghuninya adalah perempuan.” ﷺ

Comment

Konteks & Keaslian Hadis

Narasi ini tercatat dalam Sahih al-Bukhari (5198) dan Sahih Muslim, menetapkan keasliannya melalui berbagai rantai transmisi. Nabi (ﷺ) menerima penglihatan ini selama Perjalanan Malamnya yang ajaib (Isra' wal-Mi'raj), di mana Allah memberinya wawasan ilahi ke dalam alam gaib.

Komentar Ulama tentang Penghuni Surga

Imam Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa "orang miskin" (fuqara) di sini terutama merujuk pada mereka yang memiliki kemiskinan spiritual dan kerendahan hati di hadapan Allah, bukan hanya kekurangan materi. Prevalensi mereka di Surga berasal dari ketergantungan yang lebih besar pada Allah, keterlepasan dari gangguan duniawi, dan pemenuhan kewajiban agama yang lebih mudah.

Al-Qurtubi mencatat bahwa kekayaan duniawi sering menjadi cobaan yang mengalihkan dari ibadah, sementara kemiskinan menumbuhkan kesabaran dan ketergantungan pada rahmat Allah - kualitas yang sangat dihargai di Akhirat.

Memahami Wanita di Neraka

Ulama klasik seperti Imam an-Nawawi menekankan bahwa deskripsi ini bersifat statistik, bukan mengutuk. Ini menunjukkan kecenderungan yang lebih besar, bukan takdir. Banyak wanita akan masuk Surga, dan banyak pria akan masuk Neraka.

Ibn al-Jawzi mengidentifikasi tantangan spiritual utama yang khusus pada sifat wanita: ketidakbersyukuran kepada suami (kufran al-'ashir), berbicara berlebihan yang mengarah pada dosa, dan mudah dipengaruhi dalam urusan agama. Ini menjadi jalan menuju ketidaktaatan jika tidak dicegah.

Menyeimbangkan Perspektif & Solusi

Hadis ini berfungsi sebagai peringatan, bukan putusan akhir. Nabi (ﷺ) segera mengikuti narasi seperti itu dengan panduan praktis bagi wanita untuk meningkatkan amal baik dan menghindari jebakan ini melalui rasa syukur, ucapan terkendali, dan pengetahuan agama.

Ulama menekankan bahwa wanita yang memenuhi kewajiban agama mereka - khususnya lima rukun, pakaian sopan, dan tugas keluarga - dijamin masuk Surga. Mayoritas yang disebutkan merujuk pada mereka yang lalai dalam hal-hal ini, bukan orang beriman yang saleh di antara mereka.