Sahih al-Bukhari
Sahih al-Bukhari 3653
Telah menceritakan kepada kami ʿAbdullah bin Rajaʿ, telah menceritakan kepada kami Isrāʾīl, dari Abū Isḥāq, dari Al-Barāʾ, dia berkata:
Abū Bakar radliallahu ʿanhu membeli pelana dari ʿĀzib seharga tiga belas dirham. Lalu Abū Bakar berkata kepada ʿĀzib, “Suruh Al-Barāʾ membawakan pelanaku.” ʿĀzib berkata, “Tidak, sampai engkau ceritakan kepada kami apa yang engkau dan Rasulullah ﷺ lakukan ketika kalian keluar dari Mekah dan orang-orang musyrik mencari kalian.”
Dia berkata, “Kami berangkat dari Mekah, lalu kami berjalan malam dan siang hari hingga waktu zhuhur. Aku lihat-lihat sekeliling untuk mencari tempat berteduh. Ternyata ada sebuah batu besar, lalu aku mendatanginya dan kelihatan masih ada sisa naungannya, lalu aku meratakannya. Kemudian aku hamparkan sesuatu untuk Nabi ﷺ, lalu aku katakan, ‘Berbaringlah wahai Nabi Allah.’ Maka Nabi ﷺ berbaring. Kemudian aku pergi melihat sekelilingku, apakah ada salah seorang pengejar yang terlihat. Ternyata ada seorang penggembala yang menggiring kambingnya menuju batu itu, dia menginginkan (naungan) seperti yang kami inginkan. Aku bertanya, ‘Untuk siapa kamu wahai anak muda?’ Dia menjawab, ‘Untuk seorang laki-laki dari Quraisy,’ lalu dia menyebutkan namanya, dan aku mengenalnya. Aku berkata, ‘Apakah kambingmu ada susunya?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Aku berkata, ‘Apakah engkau bersedia memerah susu untuk kami?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Aku perintahkan dia lalu dia menahan seekor kambing dari gembalaannya. Kemudian aku perintahkan dia untuk mengibas-ngibaskan kantung susunya dari debu, kemudian aku perintahkan dia untuk mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya. Lalu dia memukulkan satu telapak tangan ke telapak tangan yang lain, lalu dia memerah susu untukku sedikit susu. Aku telah menyiapkan sebuah wadah air untuk Rasulullah ﷺ yang mulutnya ditutup kain. Lalu aku menuangkan air di atas susu tersebut hingga bagian bawahnya menjadi dingin. Kemudian aku membawanya kepada Nabi ﷺ dan mendapati beliau sudah terjaga. Aku berkata, ‘Minumlah wahai Rasulullah.’ Beliau minum hingga aku merasa puas. Kemudian aku berkata, ‘Sudah waktunya berangkat wahai Rasulullah.’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Maka kami berangkat sementara orang-orang mengikuti kami. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Juʿsyum yang mengendarai kudanya. Aku berkata, ‘Orang yang mengejar ini sudah sampai kepada kami wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda:
“Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Tafsir Hadis dari Sahabat Nabi
Sahih al-Bukhari 3653 - Komentar oleh Ulama Klasik
Latar Belakang Kontekstual
Narasi ini menceritakan momen kritis selama Hijrah (migrasi) ketika Nabi Muhammad (ﷺ) dan Abu Bakar (RA) mencari perlindungan di Gua Tsaur dari pengejar Quraisy.
Kekhawatiran Abu Bakar mencerminkan kecemasan manusia alami ketika tempat persembunyian mereka rentan terhadap penemuan hanya dengan pandangan ke bawah.
Peneguhan Ilahi
Tanggapan Nabi "Apa pendapatmu tentang dua (orang) yang ketiganya adalah Allah?" menunjukkan ketergantungan tertinggi pada perlindungan Ilahi.
Para ulama menjelaskan ini menandakan bahwa ketika Allah menjadi yang ketiga dalam suatu kelompok, perlindungan-Nya dijamin, membuat dua dengan Allah lebih kuat daripada kerumunan apa pun tanpa-Nya.
Pelajaran Spiritual
Hadis ini mengajarkan pentingnya tawakal (percaya kepada Allah) sambil mengambil langkah-langkah duniawi yang sesuai.
Ini menggambarkan bahwa keamanan sejati berasal dari perlindungan Allah, bukan hanya penyembunyian fisik.
Insiden ini berfungsi sebagai bukti abadi dari persahabatan Abu Bakar dan status khusus mereka yang tetap teguh bersama Nabi di masa cobaan.
Pengamatan Ulama
Ibn Hajar al-Asqalani mencatat bahwa hadis ini mengandung salah satu demonstrasi terbesar dari perlindungan langsung Allah terhadap Rasul-Nya.
Al-Qurtubi menekankan bahwa "ketiga" di sini tidak menyiratkan kemitraan numerik tetapi menunjukkan perhatian dan penjagaan khusus Allah.