Sahih al-Bukhari
Sahih al-Bukhari 3667, 3668
Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, wafat ketika Abu Bakar berada di As-Sunah —Ismail berkata: yakni di Al-ʿAliyah—, lalu ʿUmar berdiri dan berkata: “Demi Allah! Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, tidak wafat!”
Ia berkata: Dan ʿUmar berkata: “Demi Allah! Tidak terlintas dalam jiwaku kecuali itu, dan Allah benar-benar akan membangkitkannya lalu ia akan memotong tangan dan kaki sejumlah orang.”
Lalu Abu Bakar datang, menyingkap wajah Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, menciumnya dan berkata: “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu! Engkau baik ketika hidup maupun ketika wafat. Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya! Allah tidak akan pernah membuatmu merasakan dua kematian.”
Kemudian ia keluar lalu berkata: “Wahai orang yang bersumpah, tenanglah!”
Ketika Abu Bakar berbicara, ʿUmar duduk.
Lalu Abu Bakar memuji Allah dan menyanjung-Nya dan berkata: “Ketahuilah! Barangsiapa biasa menyembah Muhammad, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat; dan barangsiapa biasa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak mati.”
“Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati.”
“Dan Muhammad hanyalah seorang rasul yang sebelumnya telah berlalu rasul-rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang? Dan barangsiapa berbalik ke belakang, ia tidak akan membahayakan Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Lalu orang-orang menangis dengan isak tangis yang keras. Dan kaum Anshar berkumpul kepada Saʿd bin ʿUbada di saqifah Bani Saʿidah lalu berkata: “Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin.”
Lalu Abu Bakar, ʿUmar bin Al-Khaththab dan Abu ʿUbaidah bin Al-Jarrah pergi menemui mereka. ʿUmar hendak berbicara, lalu Abu Bakar mendiamkannya. Dan ʿUmar biasa berkata: “Demi Allah! Aku tidak menginginkan dengan itu kecuali sesuatu yang telah kusiapkan berupa ucapan yang telah menakjubkanku, dan aku khawatir Abu Bakar tidak menyampaikannya. Kemudian Abu Bakar berbicara, dan ia berbicara sebagai manusia yang paling fasih, lalu berkata dalam ucapannya: “Kami adalah para pemimpin dan kalian adalah para pembantu.”
Lalu Hubab bin Al-Mundzir berkata: “Tidak, demi Allah! Kami tidak akan melakukannya. Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin.”
Lalu Abu Bakar berkata: “Tidak, tetapi kamilah para pemimpin dan kalianlah para pembantu. Mereka adalah yang paling tengah di antara orang Arab tempat tinggalnya, dan yang paling mulia nasabnya. Maka berbaiatlah kepada ʿUmar atau kepada Abu ʿUbaidah.”
Lalu ʿUmar berkata: “Bahkan kami membaiatmu. Karena engkau adalah pemimpin kami, yang terbaik di antara kami, dan yang paling kami cintai di sisi Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya.” Lalu ʿUmar memegang tangannya dan membaiatnya, dan orang-orang pun membaiatnya. Lalu seseorang berkata: “Kalian telah membunuh Saʿd bin ʿUbada.” Lalu ʿUmar berkata: “Allah telah membunuhnya.”
Kematian Nabi & Kebijaksanaan Abu Bakar
Ketika Rasulullah ﷺ wafat, penyangkalan awal Umar bin Khattab menunjukkan cinta mendalam yang dimiliki para Sahabat terhadap Nabi. Pernyataannya "Allah akan membangkitkannya" mencerminkan keadaan emosional ekstrem yang dapat menguasai bahkan orang beriman yang paling teguh ketika menghadapi cobaan besar.
Tanggapan tenang Abu Bakar menggambarkan kejelasan iman dan kebijaksanaan yang diperlukan dalam kepemimpinan. Pernyataannya "Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati, tetapi barangsiapa menyembah Allah, maka Allah Hidup dan tidak akan pernah mati" menetapkan prinsip Islam mendasar bahwa kenabian adalah sarana untuk menyembah Allah, bukan tujuan itu sendiri.
Suksesi di Saqifah Bani Sa'ida
Pertemuan di gubuk Bani Sa'ida mewakili momen kritis dalam sejarah Islam. Usulan Ansar untuk kepemimpinan ganda muncul dari kepedulian tulus terhadap kesejahteraan masyarakat, mencerminkan niat terhormat mereka dan hak yang mapan sebagai tuan rumah dan pendukung Islam.
Tanggapan diplomatis Abu Bakar mengakui keutamaan Ansar sambil menekankan peran kepemimpinan mapan Quraisy dalam masyarakat Arab dan hubungan mereka dengan Nabi. Kebijaksanaan ini mencegah perpecahan dan mempertahankan persatuan selama periode transisi yang rentan ini.
Dukungan cepat Umar terhadap Abu Bakar menunjukkan pengakuan para Sahabat akan kebijaksanaan ilahi dalam urusan suksesi. Pernyataannya "Anda adalah pemimpin kami dan yang terbaik di antara kami" mencerminkan konsensus tentang kualifikasi unggul Abu Bakar berdasarkan penerimaannya terhadap Islam yang awal, kedekatannya dengan Nabi, dan kualitas kepemimpinan yang terbukti.
Komentar Ulama tentang Insiden Ini
Ulama klasik mencatat bahwa insiden ini menetapkan beberapa prinsip penting: kebolehan konsultasi (syura) dalam memilih pemimpin, prioritas kualifikasi daripada afiliasi suku, dan perlunya tindakan cepat untuk mempertahankan stabilitas masyarakat setelah kematian seorang pemimpin.
Sumpah setia kolektif (baiat) kepada Abu Bakar mewakili model Islam transisi kekuasaan secara damai melalui konsultasi dan konsensus, menetapkan preseden untuk pemerintahan Muslim di masa depan.