Rasulullah (ﷺ) mengucapkan kalimat dan saya mengucapkan kalimat lain. Dia berkata, "Barangsiapa mati saat dia mendirikan saingan bersama Allah (yaitu menyembah orang lain bersama Allah) akan diterima masuk ke dalam Api (Neraka)." Dan aku berkata yang lain: "Barangsiapa mati sementara dia tidak mendirikan saingan bersama Allah (yaitu tidak menyembah kecuali Allah) akan diterima di surga."
Komentar Hadis: Kriteria Penentu Akhir
Narasi mendalam dari Sahih al-Bukhari (6683) ini menetapkan kriteria tertinggi untuk keselamatan. Pernyataan Nabi menjelaskan bahwa syirik (menyekutukan Allah) membatalkan semua perbuatan dan menjamin hukuman abadi, terlepas dari pencapaian duniawi atau kebenaran yang tampak.
Implikasi Teologis Tauhid dan Syirik
Pernyataan tambahan sahabat menekankan bahwa tauhid yang tulus (monoteisme Islam) adalah satu-satunya pintu menuju Surga. Ini menunjukkan bahwa fondasi iman mendahului semua tindakan ibadah lainnya dalam hal pentingnya.
Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini menetapkan prinsip "al-wala' wal-bara'" - kesetiaan kepada orang beriman dan penolakan terhadap kemusyrikan. Seseorang yang meninggal dalam keadaan tauhid telah memenuhi tujuan utama penciptaan, sementara yang meninggal dalam keadaan syirik telah melakukan ketidakadilan terbesar terhadap dirinya sendiri.
Aplikasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Ajaran ini memerlukan kewaspadaan terus-menerus terhadap bentuk-bentuk syirik yang halus, seperti pamer dalam ibadah (riya'), mengikuti keinginan secara membabi buta, atau mencari keputusan dari selain hukum Allah.
Para ulama "Sumpah dan Nazar" mencatat bahwa prinsip ini meluas ke semua aspek iman - seseorang harus memastikan sumpah, nazar, dan ibadah mereka diarahkan hanya kepada Allah, tanpa menyekutukan dalam niat atau tindakan.