Nabi (ﷺ) berkata, “Orang-orang ditampilkan di depan saya dan saya melihat seorang nabi lewat dengan sekelompok besar pengikutnya, dan seorang nabi lewat hanya dengan sekelompok kecil orang, dan nabi lain lewat dengan hanya sepuluh (orang), dan nabi lain lewat hanya dengan lima (orang), dan nabi lain lewat sendirian. Dan kemudian saya melihat dan melihat banyak orang, jadi saya bertanya kepada Gabriel, “Apakah orang-orang ini pengikut-Ku?” Dia berkata, 'Tidak, tetapi lihatlah ke cakrawala. ' Saya melihat dan melihat banyak orang. Kata Gabriel. “Mereka itulah pengikut-pengikutmu, dan mereka itu tujuh puluh ribu orang di hadapan mereka, yang tidak akan mendapat perhitungan dan tidak akan mendapat azab. Saya bertanya, 'Mengapa? ' Beliau menjawab, “Sesungguhnya mereka tidak memperlakukan diri mereka dengan meramal atau ruqya (memperlakukan diri mereka dengan membaca beberapa ayat Al-Qur'an) dan tidak melihat pertanda buruk dalam segala sesuatu, dan mereka selalu bertawakkal (hanya) kepada Tuhan mereka.” Setelah mendengar itu, 'Ukasha bin Mihsan bangkit dan berkata (kepada Nabi), “Mintalah Allah untuk menjadikan aku salah satu dari mereka.” Nabi (ﷺ) berkata, “Ya Allah, jadikanlah dia salah satu dari mereka.” Kemudian seorang lelaki lain bangkit dan berkata (kepada Nabi), “Mintalah Allah untuk menjadikan aku salah satu dari mereka.” Nabi (ﷺ) berkata, “Ukasha telah mendahului kamu.”
Visi Para Nabi dan Pengikut Mereka
Hadis yang mendalam dari Sahih al-Bukhari (6541) ini menyajikan visi surgawi Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menyaksikan berbagai nabi dengan pengikut masing-masing. Penurunan jumlah - dari kelompok besar hingga nabi yang sendirian - menunjukkan berbagai tantangan yang dihadapi oleh utusan ilahi sepanjang sejarah. Beberapa bangsa menerima nabi mereka sepenuh hati, sementara yang lain menolak mereka, meninggalkan nabi dengan sedikit pengikut.
Kelompok Khusus Tujuh Puluh Ribu
Aspek paling menakjubkan dari visi ini adalah identifikasi tujuh puluh ribu dari Umat Muhammad ﷺ yang akan masuk Surga tanpa hisab atau hukuman. Ini menunjukkan kategori khusus orang beriman yang imannya begitu murni dan lengkap sehingga mereka melewati pemeriksaan rinci amal pada Hari Kiamat.
Para ulama menjelaskan bahwa ini tidak selalu yang paling berilmu atau saleh secara lahiriah, tetapi mereka yang mencapai tingkat tawakkal (ketergantungan penuh pada Allah) tertinggi. Penghindaran mereka dari kauterisasi, ruqyah, dan takhayul menunjukkan kepercayaan mutlak mereka pada ketetapan dan perlindungan ilahi.
Syarat untuk Status Khusus Ini
Tiga syarat yang disebutkan - tidak menggunakan kauterisasi untuk penyembuhan, tidak mencari ruqyah dari orang lain, dan tidak percaya pada pertanda buruk - semuanya menunjuk pada kesempurnaan tawakkal. Kauterisasi dan ruqyah, meskipun diperbolehkan dalam Islam, ketika ditinggalkan demi ketergantungan penuh pada Allah, menunjukkan tingkat iman yang luar biasa.
Larangan terhadap tatayyur (percaya pada pertanda buruk) menekankan bahwa orang beriman sejati melihat semua peristiwa berasal dari hikmah dan ketetapan Allah, bukan dari tanda acak atau takhayul.
Pelajaran dalam Keutamaan Ukasha
Insiden dengan Ukasha bin Mihsan mengajarkan kita tentang pentingnya menyegerakan diri dalam amal baik dan peluang spiritual. Tanggapan langsungnya untuk mencari status khusus ini menunjukkan semangat Para Sahabat untuk posisi spiritual yang lebih tinggi. Tanggapan Nabi ﷺ kepada pencari kedua - "Ukasha telah mendahului kamu" - menunjukkan bahwa pangkat spiritual dicapai melalui tindakan tepat waktu dan doa yang sungguh-sungguh.
Ini mengajarkan kita bahwa meskipun pintu rahmat Allah selalu terbuka, berkah dan pangkat khusus diberikan kepada mereka yang mencarinya dengan urgensi dan ketulusan.