حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ، حَدَّثَنَا عَوْفٌ، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنْ عِمْرَانَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ ‏"‏‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan `Imran

Nabi (ﷺ) berkata, “Saya melihat ke surga dan melihat bahwa mayoritas penduduknya adalah orang miskin, dan saya melihat ke dalam neraka dan menemukan bahwa mayoritas penduduknya adalah perempuan.”

Comment

Konteks dan Signifikansi

Hadis yang mendalam ini dari Sahih al-Bukhari "Untuk Melembutkan Hati (Ar-Riqaq)" (Referensi: Sahih al-Bukhari 6546) menyajikan dua visi berbeda tentang Akhirat. Penyaksian langsung Nabi ﷺ terhadap Surga dan Neraka memberikan pengetahuan otentik tentang penghuninya, berfungsi sebagai peringatan dan kabar gembira bagi Ummah.

Eksposisi: Orang Miskin di Surga

Prevalensi orang miskin (fuqara) di Surga menunjukkan keunggulan spiritual mereka. Kemiskinan, ketika ditanggung dengan kesabaran dan syukur, memurnikan jiwa dari keterikatan duniawi. Orang miskin sering kali lebih bergantung kepada Allah, hati mereka kurang terganggu oleh urusan materi.

Para ulama menjelaskan bahwa ini tidak berarti kemiskinan itu sendiri adalah kebajikan, melainkan orang miskin yang saleh yang mempertahankan taqwa meskipun dalam keadaan mereka. Bagian duniawi mereka yang minimal dikompensasi dengan kebahagiaan abadi, menunjukkan keadilan sempurna Allah.

Eksposisi: Wanita di Neraka

Bagian ini memerlukan pemahaman yang hati-hati. Para ulama menjelaskan bahwa prevalensi wanita di Neraka berkaitan dengan kekurangan spiritual tertentu yang umum di antara mereka, bukan sifat esensial mereka. Penyebab utama termasuk ketidakbersyukuran terhadap suami dan berbicara berlebihan yang mengarah pada fitnah.

Imam Ibn Hajar mencatat bahwa ini merujuk pada wanita yang tidak taat, bukan semua wanita. Banyak Sahabat perempuan dan wanita saleh berada di antara peringkat tertinggi Surga. Peringatan ini berfungsi untuk mendorong perbaikan dari kesalahan-kesalahan spesifik ini.

Pemahaman Seimbang

Hadis ini menyajikan dua pengamatan independen, bukan korelasi antara kemiskinan dan gender. Kedua pernyataan membawa pelajaran terpisah: dorongan untuk orang miskin yang sabar dan peringatan bagi mereka—laki-laki atau perempuan—yang mengabaikan kewajiban agama mereka.

Penentu utama tetap taqwa (kesadaran akan Tuhan). Sebagaimana Allah berfirman: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (Quran 49:13)