حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ـ رضى الله عنه ـ يُدْنِي ابْنَ عَبَّاسٍ، فَقَالَ لَهُعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ إِنَّ لَنَا أَبْنَاءً مِثْلَهُ‏.‏ فَقَالَ إِنَّهُ مِنْ حَيْثُ تَعْلَمُ‏.‏ فَسَأَلَ عُمَرُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ ‏‏{‏إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ‏}‏‏.‏ فَقَالَ أَجَلُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَعْلَمَهُ إِيَّاهُ‏.‏ قَالَ مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلاَّ مَا تَعْلَمُ‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan oleh ‘Imran bin Husain

Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Mereka berjalan sepanjang malam sehingga ketika fajar menyingsing, mereka singgah untuk beristirahat. Rasa kantuk menguasai mereka hingga matahari terbit. Orang yang pertama kali terbangun dari tidurnya adalah Abu Bakar. Ia tidak pernah membangunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tidurnya sampai beliau bangun sendiri. Kemudian ‘Umar terbangun. Abu Bakar duduk di dekat kepala beliau dan mulai bertakbir dengan suara keras, hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun. Beliau turun dan mengimami kami shalat Subuh. Ada seorang laki-laki yang menjauh dan tidak shalat bersama kami. Ketika selesai, beliau bersabda, “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk shalat bersama kami?” Dia menjawab, “Aku junub.” Maka beliau memerintahkannya untuk bertayamum dengan debu yang suci, lalu dia shalat.

‘Imran berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikanku berada di atas kendaraan di hadapannya. Kami sangat kehausan. Ketika kami sedang berjalan, tiba-tiba kami bertemu dengan seorang wanita yang menjulurkan kedua kakinya di antara dua geriba (tempat air). Kami bertanya kepadanya, “Di mana air?” Dia menjawab, “Tidak ada air.” Kami bertanya, “Berapa jarak antara keluargamu dan air?” Dia menjawab, “Satu hari satu malam.” Kami berkata, “Pergilah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dia bertanya, “Apa itu Rasulullah?” Kami tidak membiarkannya pergi hingga kami membawanya menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia menceritakan kepada beliau seperti yang dia ceritakan kepada kami, tetapi dia juga memberitahukan bahwa dia adalah seorang wanita yang memiliki anak yatim. Beliau memerintahkan untuk membawa kedua geribanya, lalu beliau mengusap mulut kedua geriba tersebut. Kami yang berjumlah empat puluh orang laki-laki yang kehausan minum hingga puas, dan kami memenuhi setiap geriba dan bejana yang kami bawa, tetapi kami tidak memberi minum seekor unta pun, sedangkan (geriba-geriba itu) hampir pecah karena penuh. Kemudian beliau bersabda, “Berikanlah apa yang kalian punya (makanan).” Maka mereka mengumpulkan untuknya potongan-potongan roti dan kurma, hingga dia pulang kepada keluarganya. Dia berkata, “Aku telah bertemu dengan manusia yang paling pandai sihir, atau dia adalah seorang nabi sebagaimana mereka klaim.” Maka Allah memberi petunjuk kepada kelompok itu melalui wanita tersebut; dia masuk Islam dan mereka pun masuk Islam.