Bulugh al-Maram

Book 8, Hadith 120

Teks hadis bahasa Arab
وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ ‏- رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا { أَنَّهُ طَلَّقَ اِمْرَأَتَهُ ‏- وَهِيَ حَائِضٌ ‏- فِي عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-فَسَأَلَ عُمَرُ رَسُولَ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-عَنْ ذَلِكَ ? فَقَالَ : " مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا , ثُمَّ لْيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ , ثُمَّ تَحِيضَ , ثُمَّ تَطْهُرَ , ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ , وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ بَعْدَ أَنْ يَمَسَّ , فَتِلْكَ اَلْعِدَّةُ اَلَّتِي أَمَرَ اَللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا اَلنِّسَاءُ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح .‏ رواه البخاري (5251)‏ ، ومسلم ( 1471)‏ (1)‏.‏
Terjemahan

Bahwasanya ia menceraikan istrinya saat sedang haidh pada masa Rasulullah (ﷺ), lalu 'Umar bertanya kepada Rasulullah (ﷺ) tentang hal tersebut. Beliau bersabda, «Perintahkanlah ia untuk merujuknya, lalu menahannya sampai ia suci, kemudian mengalami haidh, kemudian suci. Setelah itu, jika ia menghendaki, ia boleh mempertahankannya, dan jika ia menghendaki, ia boleh menceraikannya sebelum ia menyentuh (mencampurinya). Itulah masa tunggu ('iddah) yang diperintahkan Allah untuk menceraikan para wanita.» [Disepakati].