Mishkat al-Masabih
Mishkat al-Masabih 3131
Wali dalam Pernikahan, dan meminta persetujuan Wanita - Bagian 2
Teks hadis bahasa Arab
وَعَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلَيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ من لَا ولي لَهُ» . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ والدارمي
Terjemahan
'Aisyah melaporkan Rasulullah berkata, “Jika seorang wanita menikah tanpa persetujuan walinya, pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal. Jika ada hidup bersama, dia mendapatkan suaminya untuk hubungan seksual yang dilakukan suaminya. Jika ada perselisuh*, sultan adalah wali dari orang yang tidak memilikinya.” * yaitu, di antara wali, Mirqat iii. 418 mengatakan bahwa jika perselisihan mereka akan mencegah seorang wanita menikah, mereka diperlakukan sebagai tidak ada.Ahmad, Tirmidhi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Darimi menularkannya.