عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَدْخُلُ الْمَدِينَةَ رُعْبُ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ لَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ بَابٍ مَلَكَانِ» . رَوَاهُ البُخَارِيّ
Terjemahan

Yahya b. Sa'id mengatakan bahwa utusan Tuhan sedang duduk ketika sebuah kuburan sedang digali di Madinah. Seorang pria melihat ke dalam kubur dan berkata, “Sungguh tempat istirahat yang buruk bagi seorang mukmin!” Rasul Allah menjawab, “Sungguh buruk yang kamu katakan!” Dan pria itu menjawab, “Saya tidak bermaksud demikian; maksud saya bahwa dibunuh di jalan Allah [lebih baik].” Rasulullah berkata, “Tidak ada yang sebanding dengan dibunuh di jalan Allah. Tidak ada daerah lain di bumi di mana saya lebih suka kuburan saya berada,” katanya tiga kali. Malik menularkannya dalam bentuk mursal.