حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْهَا بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا فَرَغَ مِنْهَا اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ‏.‏
Terjemahan

Hadis ini telah diriwayatkan oleh Hisyam dengan rantai pemancar yang sama.

Comment

Kitab Doa - Para Musafir

Penulis: Sahih Muslim | Referensi Hadis: Sahih Muslim 737b

Konfirmasi Tekstual

Narasi ini oleh Hisham ibn 'Urwah melalui rantai transmisi (isnad) yang identik berfungsi untuk memperkuat keaslian hadis sebelumnya.

Ketika beberapa perawi yang dapat diandalkan melaporkan tradisi yang sama melalui rantai paralel, ini membentuk apa yang disebut para ulama sebagai "mutaba'ah" (koreborasi), meningkatkan kepastian hukum yang berasal dari tradisi kenabian.

Signifikansi Keilmuan

Pengulangan hadis ini melalui perawi yang berbeda dari sumber yang sama menunjukkan perhatian teliti Para Sahabat dalam melestarikan ajaran Nabi mengenai doa para musafir.

Transmisi ganda semacam itu memberikan bukti yang lebih kuat bagi para ahli hukum ketika menurunkan keputusan hukum, terutama terkait keringanan (rukhas) yang diizinkan selama perjalanan.