حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْهَا بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا فَرَغَ مِنْهَا اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ‏.‏
Terjemahan
Abu Salama dilaporkan telah mengatakan. Saya datang ke 'A'isha. Saya bilang

Wahai ibu, beritahukan kepadaku tentang doa Rasulullah (صلى الله عليه وسلم). Dia berkata: (shalat malam) pada bulan Ramadhan dan (selama bulan-bulan lain) adalah tiga belas rakaat pada malam hari termasuk dua rakaat fajr.

Comment

Kitab Doa - Para Musafir

Sahih Muslim 738 d

Teks Hadis

Wahai ibu, beritahu aku tentang doa Rasulullah (ﷺ). Dia berkata: Doa (malam) beliau di Ramadan dan (selama bulan-bulan lain) adalah tiga belas rakaat di malam hari termasuk dua rakaat fajar.

Komentar Ilmiah

Riwayat ini dari Aisyah (semoga Allah meridainya) menggambarkan pola doa malam Nabi. Tiga belas rakaat itu termasuk dua rakaat sunnah Fajar, artinya doa malam sukarela (Tahajjud) beliau terdiri dari sebelas rakaat. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah praktik rutin beliau baik di Ramadan maupun sepanjang tahun.

Nabi akan melakukan rakaat-rakaat ini berpasangan, mengucapkan salam setelah setiap dua rakaat, dan mengakhiri dengan doa witir sebagai satu rakaat. Ini menunjukkan konsistensi ibadah beliau dan berfungsi sebagai panduan bagi Muslim yang ingin meneladani doa malam beliau yang teladan.

Penyertaan Ramadan dalam riwayat ini menunjukkan bahwa meskipun doa Taraweeh dalam jamaah kemudian ditetapkan, doa malam pribadi Nabi mempertahankan pola ini sepanjang semua bulan, menunjukkan bahwa ibadah harus konsisten daripada musiman.