Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) mengirim seorang pria yang bertanggung jawab atas ekspedisi dan dia akan membaca untuk para sahabatnya selama shalat mereka, diakhiri (membaca) dengan: "Katakanlah, Dialah Allah, Satu." Ketika mereka kembali menyebutkan hal itu kepada Rasulullah (صلى الله عليه وسلم). Dia (Nabi Suci) menyuruh mereka bertanya kepadanya mengapa dia melakukan seperti itu. Maka mereka bertanya kepadanya dan dia berkata: Sesungguhnya itu adalah sifat dari Yang Maha Penyayang, dan (untuk alasan ini) Aku suka membacanya. Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) kemudian bersabda: Beritahulah kepadanya bahwa Allah mengasihi dia.
Keunggulan Surah al-Ikhlāṣ
Riwayat ini dari Ṣaḥīḥ Muslim (813) menunjukkan keutamaan mendalam dari membaca Surah al-Ikhlāṣ (Surah 112) dalam salat. Tindakan Sahabat, meskipun awalnya dipertanyakan, divalidasi oleh Nabi (ﷺ) karena berasal dari pemahaman yang benar dan cinta terhadap deskripsi esensi ilahi Allāh dalam surah ini.
Komentar Ilmiah
Pembacaan eksklusif Sahabat terhadap Surah al-Ikhlāṣ diizinkan dalam konteks militer ini di mana pemendekan salat diatur. Alasannya—bahwa itu adalah atribut Yang Maha Pengasih—mencerminkan kesadaran teologis yang mendalam, karena surah ini murni menegaskan keesaan Allāh (Tawḥīd).
Tanggapan Nabi "Allāh mencintainya" menetapkan prinsip spiritual yang mendalam: ketika seorang hamba mencintai suatu ibadah karena kaitannya dengan atribut Allāh, Allāh membalas cinta itu. Ini menggambarkan dimensi batin ibadah di luar sekadar kepatuhan lahiriah.
Implikasi Hukum & Spiritual
Meskipun biasanya merekomendasikan variasi dalam pembacaan Qur'ān, para ulama mencatat bahwa hadis ini mengizinkan pengulangan Surah al-Ikhlāṣ karena keutamaannya yang unik. Pembacaannya setara dengan sepertiga dari Qur'ān dalam pahala, seperti yang dikonfirmasi dalam riwayat otentik lainnya.
Insiden ini juga menunjukkan metodologi pengajaran Nabi yang lembut—dia menanyakan alasannya sebelum menghakimi, menegaskan niat yang benar sambil mendidik komunitas.