حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَعَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ‏.‏
Terjemahan

Hadis ini telah diriwayatkan oleh Qatada dengan rantai pemancar yang sama dengan sedikit perubahan kata-kata.

Comment

Kitab Doa - Para Musafir

Penulis: Sahih Muslim | Referensi Hadis: Sahih Muslim 826 b

Komentar tentang Narasi

Tradisi ini, yang ditransmisikan melalui rantai Qatada yang andal, mempertahankan makna esensial yang sama meskipun ada variasi verbal kecil. Perbedaan dalam pemilihan kata seperti ini umum dalam transmisi hadis dan tidak mempengaruhi signifikansi hukum atau spiritual dari ajaran Nabi.

Para ulama ilmu hadis menegaskan bahwa ketika perawi terpercaya seperti Qatada melaporkan dengan sedikit perubahan verbal sambil mempertahankan makna inti, hal ini sebenarnya memperkuat keaslian tradisi melalui jalur transmisi ganda (tawatur ma'nawi).

Perspektif Ilmiah

Komentator klasik mencatat bahwa perbedaan kecil dalam kata-kata dalam narasi paralel menunjukkan pelestarian yang cermat dari ajaran Nabi melalui rantai independen, sambil menunjukkan fokus para sahabat pada penyampaian makna daripada pengulangan kata demi kata yang kaku.

Pendekatan ini mencerminkan pemahaman komunitas Muslim awal bahwa semangat dan implikasi hukum dari kata-kata Nabi adalah yang terpenting, dan variasi verbal kecil yang tidak mengubah keputusan dapat diterima dan bahkan diharapkan dalam transmisi lisan.