"Aku berkata kepada Ibnu 'Abbas: Apa yang mendorongnya untuk melakukan itu? Dia berkata: Agar umatnya (Nabi) tidak disulitkan (yang tidak perlu)." Dan dalam hadits yang disampaikan oleh Mu'awiyah (kata-katanya): "Dikatakan kepada Ibnu 'Abbas: Apa yang dia maksudkan dengan itu? Dia mengatakan dia ingin agar umatnya tidak dibebani pada kesulitan yang tidak perlu."
Kitab Doa - Para Musafir
Sahih Muslim 705 d
Penjelasan Kontekstual
Narasi ini berkaitan dengan praktik Nabi menggabungkan shalat selama perjalanan. Ketika ditanya tentang hikmah di balik keringanan ini, Ibnu 'Abbas menjelaskan bahwa Rasulullah bermaksud mencegah kesulitan yang tidak semestinya atas umatnya.
Komentar Ilmiah
Tujuan utama legislasi Islam adalah untuk memudahkan sambil mempertahankan kewajiban agama. Penggabungan shalat oleh Nabi menggambarkan prinsip menghilangkan kesulitan (rafʿ al-ḥaraj) dari komunitas Muslim.
Keputusan ini menunjukkan bahwa Syariah mempertimbangkan keadaan dan kemampuan manusia. Perjalanan mewakili alasan yang sah (ʿudhr) yang membenarkan keringanan tertentu dalam ibadah, mencerminkan rahmat Allah terhadap hamba-hamba-Nya.
Pengulangan penjelasan ini melalui rantai transmisi yang berbeda menekankan pentingnya prinsip hukum ini dan memastikan pelestariannya untuk generasi Muslim masa depan.
Implikasi Hukum
Hadis ini menetapkan kebolehan menggabungkan Dhuhr dengan ʿAṣr dan Maghrib dengan ʿIshāʾ selama perjalanan tanpa dianggap berdosa atau kurang pahalanya.
Keringanan ini berlaku khusus untuk perjalanan yang memenuhi persyaratan jarak minimum (sekitar 48 mil atau 80 kilometer menurut kebanyakan ulama), menunjukkan ketepatan yurisprudensi Islam dalam menerapkan keringanan secara tepat.