Seseorang berkata kepada Ibnu 'Abbas (saat dia menunda shalat): Sholat. Dia tetap diam. Dia kembali berkata: Doa. Dia kembali diam, dan dia kembali berteriak: Doa. Dia kembali diam dan berkata: Semoga kamu kehilangan ibumu, apakah kamu mengajari kami tentang doa? Kami biasa menggabungkan dua shalat selama hidup Rasulullah (صلى الله عليه وسلم).
Kitab Doa - Para Musafir
Sahih Muslim 705 h
Analisis Kontekstual
Narasi ini menunjukkan kebolehan menggabungkan shalat (jam' al-salat) selama perjalanan, seperti yang dipraktikkan selama masa hidup Nabi. Diamnya Ibn 'Abbas menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap ketidaktahuan penanya mengenai praktik Sunnah yang mapan ini.
Penjelasan Hukum Legal
Penggabungan shalat merujuk pada menyatukan Zuhr dengan 'Asr, dan Maghrib dengan 'Isha, baik dengan memajukan shalat kedua (jam' taqdim) atau menunda shalat pertama (jam' ta'khir). Konsesi ini berlaku untuk musafir yang memenuhi persyaratan jarak tertentu.
Reaksi kuat Ibn 'Abbas menekankan bahwa ini bukanlah inovasi tetapi praktik yang terdokumentasi dengan baik dari era Nabi, sehingga membantah klaim bahwa menggabungkan shalat merupakan bid'ah (inovasi).
Interpretasi Ilmiah
Para ulama klasik mencatat bahwa desakan penanya untuk shalat secara terpisah mencerminkan kurangnya pengetahuan tentang konsesi perjalanan. Ibn 'Abbas, sebagai sahabat dan ulama terkemuka, menegaskan kelangsungan praktik kenabian terhadap kritik yang tidak terinformasi.
Hadis ini berfungsi sebagai bukti bahwa menggabungkan shalat saat bepergian tetap berlaku hingga Hari Kiamat, karena hal ini ditetapkan oleh praktik terus-menerus Nabi dan dikonfirmasi oleh para sahabatnya.