حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي، هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
Abu Huraira melaporkan bahwa Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda

Jangan mencaci maki para sahabatku, jangan mencaci maki para sahabatku. Oleh-Nya di tangan-Nya hidupku, jika salah satu di antara kamu menghabiskan emas sebanyak Uhud, itu tidak akan berjumlah sebanyak satu untuk salah satu dari mereka atau setengahnya.

Comment

Kitab Keutamaan Para Sahabat - Sahih Muslim 2540

Hadis yang mendalam dari Sahih Muslim ini berisi larangan tegas Nabi Muhammad terhadap berbicara buruk tentang para Sahabatnya, disertai dengan pernyataan luar biasa tentang status spiritual mereka yang tak tertandingi.

Larangan Mencela Para Sahabat

Pengulangan "jangan cela Sahabatku" menekankan beratnya larangan ini. Ulama klasik menjelaskan bahwa mencela para Sahabat merupakan dosa besar, karena hal itu menyiratkan penolakan terhadap kesaksian Al-Qur'an tentang kebajikan mereka dan menantang pilihan ilahi.

Imam al-Nawawi berkomentar bahwa larangan ini berlaku untuk semua Sahabat tanpa terkecuali, karena mereka adalah generasi terpilih melalui siapa Islam didirikan dan disampaikan.

Status Spiritual Para Sahabat

Sumpah "Demi Dia yang di Tangan-Nya jiwaku" menggarisbawahi kepastian mutlak dari apa yang mengikuti. Perbandingan dengan Gunung Uhud - sebuah gunung besar dekat Madinah - menggambarkan bahwa tidak ada generasi berikutnya yang dapat menyamai keutamaan spiritual para Sahabat melalui pengeluaran duniawi.

Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini menetapkan keunggulan kolektif para Sahabat atas semua Muslim kemudian, karena iman mereka diuji melalui persahabatan langsung dengan Nabi dan pengorbanan yang besar.

Interpretasi Ulama

Ulama tradisional sepakat bahwa hadis ini menetapkan kewajiban untuk menghormati semua Sahabat dan menahan diri dari mengkritik perselisihan internal mereka, mengakui ini sebagai ijtihad (penalaran ilmiah) di mana masing-masing mencari apa yang mereka yakini benar.

Al-Qadi Iyad menyatakan bahwa mencintai para Sahabat adalah bagian dari iman, sementara membenci mereka adalah bid'ah, karena mereka adalah perantara melalui mana Islam sampai kepada kita dan integritas kolektif mereka ditetapkan oleh kesaksian Al-Qur'an.