حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ خَيْثَمَةَ، عَنْ أَبِي حُذَيْفَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ كُنَّا إِذَا حَضَرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم طَعَامًا لَمْ نَضَعْ أَيْدِيَنَا حَتَّى يَبْدَأَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَيَضَعَ يَدَهُ وَإِنَّا حَضَرْنَا مَعَهُ مَرَّةً طَعَامًا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ كَأَنَّهَا تُدْفَعُ فَذَهَبَتْ لِتَضَعَ يَدَهَا فِي الطَّعَامِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِيَدِهَا ثُمَّ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ كَأَنَّمَا يُدْفَعُ فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لاَ يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ لِيَسْتَحِلَّ بِهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَجَاءَ بِهَذَا الأَعْرَابِيِّ لِيَسْتَحِلَّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ فِي يَدِي مَعَ يَدِهَا ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
Jabir b. 'Abdullah melaporkan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda

Ketika seseorang memasuki rumahnya dan menyebutkan nama Allah pada saat memasukinya dan saat makan makanan, Setan berkata (berbicara pada dirinya sendiri: Kamu tidak memiliki tempat untuk bermalam dan tidak ada makan malam; tetapi ketika dia masuk tanpa menyebutkan nama Allah, Setan berkata: Kamu telah menemukan tempat untuk bermalam, dan ketika dia tidak menyebut nama Allah saat makan makanan, dia (Setan) berkata: Kamu telah menemukan tempat untuk makan malam dan malam.

Comment

Komentar Hadis - Kitab Minuman (Sahih Muslim 2018a)

Narasi ini dari Sahih Muslim menekankan signifikansi spiritual yang mendalam dari menyebut nama Allah pada dua momen kritis: memasuki rumah sendiri dan menikmati rezeki. Hadis ini menggunakan alat pedagogis yang kuat dengan mengungkapkan dialog internal Setan untuk menggambarkan konsekuensi spiritual dari tindakan kita.

Kebijaksanaan Dzikir di Titik Masuk

Para ulama menjelaskan bahwa rumah adalah tempat perlindungan privasi dan kehidupan keluarga, membuatnya rentan terhadap intrusi setan. Menyebut "Bismillah" saat masuk menetapkan perlindungan ilahi dan mengubah tempat tinggal menjadi ruang yang diberkati di mana Setan tidak dapat menetap.

Para komentator klasik mencatat bahwa praktik ini mengikuti prinsip Al-Quran untuk memulai semua urusan penting dengan nama Allah, seperti yang diperintahkan dalam Surah Al-An'am: "Dan makanlah dari apa yang telah Allah sediakan untukmu, yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu percayai."

Mekanisme Spiritual Barakah

Ketika seorang mukmin menyebut nama Allah sebelum makan, mereka mengakui sumber ilahi dari rezeki mereka, sehingga mengisi makanan dengan barakah (berkah). Ini mengubah tindakan fisik menjadi tindakan ibadah.

Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa Setan mendapatkan akses ke apa yang dikonsumsi tanpa dzikir karena itu menjadi konsumsi hewani belaka yang tanpa kesadaran spiritual. Peringatan akan Allah mengangkat tindakan itu dan melindunginya dari kontaminasi setan.

Implikasi Praktis untuk Kehidupan Sehari-hari

Hadis ini mengajarkan bahwa setiap tindakan, tidak peduli seberapa biasa, memiliki dimensi spiritual. Praktik konsisten dzikir menciptakan lingkungan spiritual pelindung di sekitar mukmin dan rumah tangga mereka.

Para ulama menekankan bahwa ini melampaui rumah formal ke semua tempat tinggal dan tempat tinggal, dan berlaku untuk semua bentuk konsumsi - tidak hanya makanan tetapi juga minuman, yang sangat relevan mengingat penempatan hadis ini dalam "Kitab Minuman."