Abu Talha memerintahkan Umm Sulaim untuk menyiapkan makanan khusus untuk Rasul Allah (صلى الله عليه وسلم). Dia kemudian mengutus aku kepadanya (kepada Nabi Suci); sisa hadits adalah sama (tetapi ada sedikit variasi kata-kata):" Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) meletakkan tangannya dan menyebutkan nama Allah di atasnya, dan kemudian berkata: Masuklah sepuluh orang. Dia (Abu Talha) menerima mereka dan mereka masuk. Dia (Nabi Suci) bersabda: Makanlah sambil menyebutkan nama Allah di atasnya (makanan). Mereka makan sampai delapan puluh orang mengambil makanan. Kemudian Rasul Allah (صلى الله عليه وسلم) makan, dan juga anggota rumah tangga, dan mereka masih meninggalkan makanan."
Kitab Minuman - Sahih Muslim 2040 d
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Narasi yang diberkati dari Sahih Muslim ini menunjukkan kebijaksanaan spiritual dan praktis yang mendalam mengenai rezeki dan berkah ilahi.
Keutamaan Memulai dengan Nama Allah
Tindakan Nabi meletakkan tangannya di atas makanan dan menyebut nama Allah mengajarkan kita bahwa semua berkah berasal dari Allah semata. Dengan menyebut nama-Nya, kita mengakui bahwa rezeki adalah pemberian ilahi, bukan semata-mata usaha manusia.
Praktik ini mengubah makan biasa menjadi ibadah, melindungi makanan dari bagian setan dan memastikan barakah (berkah) dalam apa yang kita konsumsi.
Mukjizat Perbanyakan
Memberi makan delapan puluh orang dari makanan yang dimaksudkan untuk sedikit orang menunjukkan bagaimana berkah ilahi memperbanyak persediaan ketika disertai dengan niat yang benar dan mengingat Allah. Ini mencerminkan mukjizat Isa (damai atasnya) dan mengukuhkan kenabian Muhammad.
Pelestarian makanan sisa lebih menekankan bahwa kelimpahan sejati datang dari rahmat Allah, bukan hanya kuantitas materi.
Keramahan dan Kedermawanan
Inisiatif Abu Talha dan Umm Sulaim untuk menyiapkan makanan khusus untuk Utusan Allah merupakan contoh tertinggi keramahan dalam Islam. Tindakan mereka menunjukkan cinta kepada Nabi dan keinginan untuk kedekatan spiritual melalui pelayanan.
Instruksi Nabi untuk mengizinkan sepuluh orang sekaligus menunjukkan etika Islam dalam tuan rumah yang ramah sambil menjaga ketertiban dan martabat.
Yurisprudensi Praktis
Para ulama mengambil dari hadis ini sunnah mengucapkan "Bismillah" sebelum makan, kebolehan makan dalam kelompok, dan pentingnya berbagi makanan dengan orang lain.
Urutan penyajian - tamu terlebih dahulu, kemudian anggota rumah tangga - menetapkan etika Islam yang tepat untuk distribusi makanan dan prioritas dalam keramahan.