حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ، أَنَّهُ سَمِعَ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ، يَقُولُ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ أَصَابَ النَّاسَ فِيهِ شِدَّةٌ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَىٍّ لأَصْحَابِهِ لاَ تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى يَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِهِ ‏.‏ قَالَ زُهَيْرٌ وَهِيَ قِرَاءَةُ مَنْ خَفَضَ حَوْلَهُ ‏.‏ وَقَالَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأَعَزُّ مِنْهَا الأَذَلَّ - قَالَ - فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُهُ بِذَلِكَ فَأَرْسَلَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَىٍّ فَسَأَلَهُ فَاجْتَهَدَ يَمِينَهُ مَا فَعَلَ فَقَالَ كَذَبَ زَيْدٌ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم - قَالَ - فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِمَّا قَالُوهُ شِدَّةٌ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ تَصْدِيقِي ‏{‏ إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ‏}‏ قَالَ ثُمَّ دَعَاهُمُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لِيَسْتَغْفِرَ لَهُمْ - قَالَ - فَلَوَّوْا رُءُوسَهُمْ ‏.‏ وَقَوْلُهُ ‏{‏ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ‏}‏ وَقَالَ كَانُوا رِجَالاً أَجْمَلَ شَىْءٍ ‏.‏
Terjemahan
Ibnu Umar melaporkan Rasul Allah (صلى الله عليه وسلم) bersabda

Persamaan dari seorang munafik adalah seekor domba yang berkeliaran tanpa tujuan di antara dua kawanan. Dia pergi ke satu pada satu waktu dan ke yang lain di lain waktu.

Comment

Perumpamaan Dijelaskan

Analogi mendalam dari Sahih Muslim 2784 a ini menggambarkan ketidakstabilan spiritual orang munafik. Seperti domba yang bingung berkeliaran di antara dua kawanan tanpa komitmen yang kuat, orang munafik berayun antara iman dan kekafiran, tidak pernah menetap pada keyakinan yang sejati.

Ketidakstabilan Spiritual

Hati orang munafik tetap dalam kebingungan abadi, menyerupai domba tanpa tujuan yang tidak dapat memutuskan kawanan mana yang akan diikuti. Kadang-kadang dia menunjukkan iman yang tampak ketika berada di antara orang beriman, namun hatinya condong kepada kekafiran ketika berada di antara orang kafir.

Dualitas ini mencegahnya mencapai ketenangan dan kepastian yang datang dengan iman yang tulus. Keadaannya adalah konflik internal abadi dan ketidakkonsistenan eksternal.

Peringatan Terhadap Kemunafikan

Hadis ini dari "Karakteristik Orang Munafik Dan Hukum Mengenai Mereka" berfungsi sebagai peringatan serius terhadap penyakit kemunafikan (nifāq). Orang beriman harus berusaha untuk konsistensi spiritual dan menghindari sifat goyah yang menjadi ciri orang munafik.

Iman sejati memerlukan komitmen sepenuh hati kepada Allah dan agama-Nya, bukan pergeseran oportunis antara posisi yang menandai watak munafik.