حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِهْرَانَ الرَّازِيُّ، حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رضى الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ‏.‏
Terjemahan

Ibnu 'Umar (Allah berkenan dengan keduanya) melaporkan bahwa Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) biasa merayakan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Comment

Kitab I'tikaf - Sahih Muslim 1171a

Sebuah komentar tentang hadis Ibnu 'Umar mengenai praktik Nabi dalam I'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

Analisis Teks

Narasi ini menetapkan Sunnah melaksanakan I'tikaf selama sepuluh malam terakhir Ramadan, menekankan praktik Nabi yang konsisten.

Spesifikasi "sepuluh hari terakhir" menunjukkan keunggulan khusus periode ini untuk retret spiritual, yang bertepatan dengan Malam Takdir (Laylat al-Qadr).

Keputusan Hukum

I'tikaf selama hari-hari ini dianggap Sunnah Mu'akkadah (tradisi yang ditekankan) menurut mayoritas ulama.

Durasi minimum diperdebatkan, tetapi kebanyakan berpendapat bahwa periode apa pun dengan niat I'tikaf sudah cukup, meskipun sepuluh hari penuh adalah yang optimal.

Signifikansi Spiritual

I'tikaf mewakili dedikasi penuh untuk ibadah, pengasingan dari urusan duniawi untuk mencari kedekatan ilahi.

Waktu di akhir Ramadan memaksimalkan manfaat spiritual, karena orang beriman mencari Laylat al-Qadr dalam keadaan ibadah yang berdedikasi.

Implementasi Praktis

Mu'takif harus tetap di masjid kecuali untuk kebutuhan penting, menjaga zikir kepada Allah secara konstan.

Praktik ini menunjukkan pentingnya mengabdikan waktu eksklusif untuk pengembangan spiritual jauh dari gangguan duniawi.