'Aisyah (Allah ridho kepadanya) melaporkan bahwa ketika sepuluh malam terakhir dimulai, Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) tetap terjaga di malam hari (untuk shalat dan pengabdian), membangunkan keluarganya, dan mempersiapkan diri untuk menjalankan shalat (dengan lebih bersemangat).
Kitab I'tikaf - Sahih Muslim 1174
Narasi ini dari Ibu Orang-Orang Beriman, 'A'isyah (semoga Allah meridainya), menggambarkan praktik berkah Nabi Muhammad (saw) selama sepuluh malam terakhir Ramadan. Malam-malam ini dibedakan dengan mengandung Lailatul Qadar (Malam Ketetapan), yang lebih baik daripada seribu bulan.
Kewaspadaan Spiritual dalam Sepuluh Malam Terakhir
Tindakan Nabi "tetap terjaga di malam hari" menandakan ibadah yang diperkuat selama malam-malam berharga ini. Ini termasuk sholat tambahan, pembacaan Al-Qur'an, dzikir (mengingat Allah), dan memohon ampunan. Para ulama menjelaskan bahwa praktik ini menunjukkan pentingnya tertinggi dalam memaksimalkan ibadah ketika berkah dilipatgandakan.
Frasa "membangunkan keluarganya" menunjukkan kepedulian Nabi terhadap kesejahteraan spiritual rumah tangganya dan mengajarkan kita untuk mendorong keluarga kita dalam perbuatan baik. Kebangkitan spiritual kolektif ini menciptakan lingkungan yang kondusif untuk ibadah di seluruh rumah tangga.
Persiapan dan Pengabdian yang Diperbarui
"Mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat dengan lebih semangat" menunjukkan persiapan fisik dan spiritual. Para komentator klasik menyebutkan bahwa ini termasuk melakukan mandi wajib, mengenakan pakaian bersih, menggunakan siwak, dan memurnikan niat - semuanya untuk meningkatkan kualitas ibadah selama malam-malam suci ini.
Pendekatan komprehensif ini mengajarkan kita bahwa mencari Lailatul Qadar membutuhkan persiapan eksternal dan fokus spiritual internal, menggabungkan usaha individu dengan keterlibatan keluarga dalam ibadah selama waktu paling diberkati di bulan paling diberkati.