حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، جَمِيعًا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، - قَالَ إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، - عَنْ أَبِي يَعْفُورٍ، عَنْ مُسْلِمِ بْنِ صُبَيْحٍ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ، - رضى الله عنها - قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ ‏.‏
Terjemahan

'Aisyah (Allah berkenan kepadanya) melaporkan bahwa Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) biasa mengerahkan dirinya dalam pengabdian selama sepuluh malam terakhir untuk tingkat yang lebih besar daripada waktu lainnya.

Comment

Kitab I'tikaf - Sahih Muslim 1175

Sebuah komentar tentang hadis yang diriwayatkan oleh 'A'isyah (semoga Allah meridhoinya) mengenai peningkatan pengabdian Nabi selama sepuluh malam terakhir Ramadan.

Analisis Teks

Frasa "biasa mengerahkan diri dalam pengabdian" menunjukkan intensifikasi ibadah Nabi selama sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama dalam mencari Lailatul Qadar (Malam Ketetapan).

Ungkapan "dalam tingkat yang lebih besar daripada waktu lain mana pun" menunjukkan status khusus malam-malam ini dalam ibadah Islam dan pentingnya meningkatkan upaya spiritual selama periode yang diberkati ini.

Keputusan Hukum

Hadis ini menetapkan praktik yang disarankan (mustahabb) untuk meningkatkan ibadah selama sepuluh malam terakhir Ramadan, termasuk shalat, pembacaan Al-Quran, zikir kepada Allah, dan doa.

Para ulama menyimpulkan dari narasi ini keabsahan I'tikaf (retret spiritual) selama malam-malam ini, karena Nabi biasanya mengasingkan diri di masjid untuk beribadah pada waktu ini.

Signifikansi Spiritual

Peningkatan pengabdian ini berfungsi sebagai sarana untuk meraih berkah Lailatul Qadar, yang lebih baik daripada seribu bulan ibadah.

Praktik ini mengajarkan para mukmin pentingnya memanfaatkan peluang untuk kemajuan spiritual dan menunjukkan contoh sempurna Nabi dalam memaksimalkan ibadah selama waktu-waktu yang diberkati.