حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ، وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، كِلاَهُمَا عَنْ سُلَيْمَانَ، - وَاللَّفْظُ لِشَيْبَانَ - حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ ‏"‏ ‏.‏ ثُمَّ دَفَعَهُ إِلَى أُمِّ سَيْفٍ امْرَأَةِ قَيْنٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو سَيْفٍ فَانْطَلَقَ يَأْتِيهِ وَاتَّبَعْتُهُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى أَبِي سَيْفٍ وَهُوَ يَنْفُخُ بِكِيرِهِ قَدِ امْتَلأَ الْبَيْتُ دُخَانًا فَأَسْرَعْتُ الْمَشْىَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ يَا أَبَا سَيْفٍ أَمْسِكْ جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ فَأَمْسَكَ فَدَعَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِالصَّبِيِّ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ ‏.‏ فَقَالَ أَنَسٌ لَقَدْ رَأَيْتُهُ وَهُوَ يَكِيدُ بِنَفْسِهِ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَدَمَعَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ‏"‏ تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَاللَّهِ يَا إِبْرَاهِيمُ إِنَّا بِكَ لَمَحْزُونُونَ ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
'Aisyah (Allah ridha kepadanya) melaporkan bahwa datanglah beberapa orang Arab gurun kepada Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) dan berkata

Apakah Anda mencium anak-anak Anda? Dia berkata: Ya. Lalu mereka berkata: Demi Allah tetapi kami tidak mencium anak-anak kami. Setelah itu Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda: "Lalu apa yang bisa aku lakukan jika Allah telah merampas rahmatmu? Ibnu Numair berkata: (Kami telah merampas) hati Anda dari belas kasihan.

Comment

Kitab Keutamaan - Sahih Muslim 2317

Narasi ini dari Sahih Muslim menyoroti pentingnya mendalam menunjukkan kasih sayang dan rahmat terhadap anak-anak, yang dianggap sebagai manifestasi rahmat ilahi di dalam hati manusia.

Analisis Kontekstual

Nabi Muhammad (ﷺ) ditanya oleh para sahabatnya apakah dia mencium anak-anaknya sendiri. Ketika dia menegaskan praktik ini, beberapa sahabat mengungkapkan keheranan mereka, mengungkapkan bahwa mereka tidak mencium anak-anak mereka.

Tanggapan Nabi membawa makna spiritual yang dalam: "Lalu apa yang bisa saya lakukan jika Allah telah mencabut rahmat dari kamu?" menunjukkan bahwa kasih sayang alami yang ditunjukkan orang tua terhadap anak-anak adalah berkah dan rahmat dari Allah.

Komentar Ilmiah

Ulama klasik menjelaskan bahwa menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak bukan hanya praktik budaya tetapi sunnah (tradisi kenabian) yang mencerminkan rahmat yang Allah tempatkan di hati orang-orang beriman.

Klarifikasi Ibn Numair "hati kamu yang penuh rahmat" menekankan bahwa kekurangan terletak bukan pada rahmat umum Allah tetapi pada rahmat khusus yang seharusnya secara alami berada di hati orang tua terhadap keturunan mereka.

Ulama mencatat bahwa hadis ini mengajarkan bahwa kasih sayang orang tua adalah barometer keadaan spiritual seseorang - ketika hati menjadi keras dan tidak mampu menunjukkan rahmat alami kepada anak-anaknya sendiri, ini menunjukkan kekurangan spiritual yang serius.

Implikasi Praktis

Ajaran ini menetapkan bahwa mengekspresikan kasih sayang fisik terhadap anak-anak tidak hanya diizinkan tetapi dianjurkan dalam Islam.

Narasi ini berfungsi sebagai pengingat bahwa spiritualitas Islam mencakup semua aspek hubungan manusia, termasuk ekspresi cinta yang paling alami dalam keluarga.

Ulama Muslim sepanjang sejarah telah mengutip hadis ini untuk menekankan bahwa iman yang sejati melunakkan hati dan membuat seseorang lebih penyayang, bukan kurang.