حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ، وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، كِلاَهُمَا عَنْ سُلَيْمَانَ، - وَاللَّفْظُ لِشَيْبَانَ - حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ ‏"‏ ‏.‏ ثُمَّ دَفَعَهُ إِلَى أُمِّ سَيْفٍ امْرَأَةِ قَيْنٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو سَيْفٍ فَانْطَلَقَ يَأْتِيهِ وَاتَّبَعْتُهُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى أَبِي سَيْفٍ وَهُوَ يَنْفُخُ بِكِيرِهِ قَدِ امْتَلأَ الْبَيْتُ دُخَانًا فَأَسْرَعْتُ الْمَشْىَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ يَا أَبَا سَيْفٍ أَمْسِكْ جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ فَأَمْسَكَ فَدَعَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِالصَّبِيِّ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ ‏.‏ فَقَالَ أَنَسٌ لَقَدْ رَأَيْتُهُ وَهُوَ يَكِيدُ بِنَفْسِهِ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَدَمَعَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ‏"‏ تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَاللَّهِ يَا إِبْرَاهِيمُ إِنَّا بِكَ لَمَحْزُونُونَ ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
Abu Huraira melaporkan bahwa al-Aqra' b. Habis melihat Rasul Allah (صلى الله عليه وسلم) mencium Hasan. Katanya

Saya memiliki sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium salah satu pun dari mereka, sehingga Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda: Barangsiapa tidak menunjukkan rahmat (terhadap anak-anaknya), tidak akan menunjukkan rahmat kepadanya.

Comment

Kitab Keutamaan - Sahih Muslim 2318a

Narasi dari Sahih Muslim ini menyajikan ajaran mendalam mengenai kasih sayang orang tua dan rahmat ilahi. Pernyataan sahabat mengungkapkan kesalahpahaman budaya yang lazim di Arab pra-Islam, di mana beberapa orang menganggap kasih sayang berlebihan terhadap anak sebagai kelemahan.

Komentar Ilmiah

Tanggapan Nabi menetapkan prinsip Islam mendasar tentang rahmat timbal balik. Para ulama menjelaskan bahwa menunjukkan rahmat kepada anak-anak tidak hanya disarankan tetapi penting, karena itu menjadi sarana di mana rahmat Allah turun kepada orang tua.

Ibn Rajab al-Hanbali berkomentar bahwa hadis ini menunjukkan bagaimana tindakan manusia terhadap ciptaan secara langsung mempengaruhi perlakuan Allah terhadap mereka. Rahmat yang ditunjukkan kepada anak-anak menjadi penyebab untuk menerima rahmat ilahi.

Al-Nawawi menekankan bahwa ajaran ini melampaui kasih sayang fisik untuk mencakup memberikan pengasuhan yang tepat, pendidikan, dan dukungan emosional, semuanya merupakan manifestasi dari rahmah (rahmat).

Implikasi Praktis

Ajaran ini merevolusi hubungan orang tua-anak, menjadikan kasih sayang dan belas kasihan sebagai kewajiban agama daripada emosi opsional.

Hadis menetapkan bahwa rahmat dimulai dalam rumah tangga dan memancar ke luar. Hati yang mengeras terhadap anak sendiri tidak dapat secara tepat memanifestasikan rahmat terhadap orang lain.

Para ulama menyimpulkan bahwa prinsip ini berlaku secara universal - rahmat yang ditunjukkan kepada ciptaan apa pun menjadi sarana untuk menerima rahmat Allah, dengan keluarga sendiri sebagai tempat ujian utama.