حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ، وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، كِلاَهُمَا عَنْ سُلَيْمَانَ، - وَاللَّفْظُ لِشَيْبَانَ - حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ ‏"‏ ‏.‏ ثُمَّ دَفَعَهُ إِلَى أُمِّ سَيْفٍ امْرَأَةِ قَيْنٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو سَيْفٍ فَانْطَلَقَ يَأْتِيهِ وَاتَّبَعْتُهُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى أَبِي سَيْفٍ وَهُوَ يَنْفُخُ بِكِيرِهِ قَدِ امْتَلأَ الْبَيْتُ دُخَانًا فَأَسْرَعْتُ الْمَشْىَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ يَا أَبَا سَيْفٍ أَمْسِكْ جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ فَأَمْسَكَ فَدَعَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِالصَّبِيِّ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ ‏.‏ فَقَالَ أَنَسٌ لَقَدْ رَأَيْتُهُ وَهُوَ يَكِيدُ بِنَفْسِهِ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَدَمَعَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ‏"‏ تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَاللَّهِ يَا إِبْرَاهِيمُ إِنَّا بِكَ لَمَحْزُونُونَ ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan

Hadis di atas juga telah diriwayatkan melalui rantai pemancar lainnya.

Comment

Kitab Keutamaan - Sahih Muslim 2318 b

Narasi ini, meskipun menyampaikan makna esensial yang sama dengan hadis utama, sampai kepada kita melalui rantai perawi yang andal (isnad) alternatif. Rantai transmisi berganda seperti ini berfungsi untuk memperkuat keaslian laporan, sebuah prinsip yang dikenal dalam ilmu hadis sebagai tawaatur atau koreborasi. Para ulama Islam menekankan pentingnya memverifikasi jalur melalui mana tradisi kenabian sampai kepada kita.

Komentar Ilmiah

Keberadaan rantai berganda untuk satu narasi adalah tanda keteguhannya dan penerimaan luas di antara komunitas awal. Ini menunjukkan bahwa masalah itu tidak bergantung pada satu sumber saja, sehingga meminimalkan kemungkinan kesalahan atau kelupaan dari narator individu mana pun. Metodologi ketat untuk melestarikan Sunnah ini adalah fitur unik umat Muslim.

Ketika para penyusun koleksi Sahih, seperti Imam Muslim, memasukkan rantai pendukung ini (shawahid), mereka melakukannya untuk menunjukkan kekokohan bukti. Hal ini memungkinkan ahli fikih dan ulama untuk menurunkan keputusan dengan keyakinan yang lebih besar, mengetahui bahwa tradisi itu telah mapan dari Rasulullah, semoga damai menyertainya.