حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ، وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، كِلاَهُمَا عَنْ سُلَيْمَانَ، - وَاللَّفْظُ لِشَيْبَانَ - حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ ‏"‏ ‏.‏ ثُمَّ دَفَعَهُ إِلَى أُمِّ سَيْفٍ امْرَأَةِ قَيْنٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو سَيْفٍ فَانْطَلَقَ يَأْتِيهِ وَاتَّبَعْتُهُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى أَبِي سَيْفٍ وَهُوَ يَنْفُخُ بِكِيرِهِ قَدِ امْتَلأَ الْبَيْتُ دُخَانًا فَأَسْرَعْتُ الْمَشْىَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ يَا أَبَا سَيْفٍ أَمْسِكْ جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ فَأَمْسَكَ فَدَعَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِالصَّبِيِّ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ ‏.‏ فَقَالَ أَنَسٌ لَقَدْ رَأَيْتُهُ وَهُوَ يَكِيدُ بِنَفْسِهِ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَدَمَعَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ‏"‏ تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَاللَّهِ يَا إِبْرَاهِيمُ إِنَّا بِكَ لَمَحْزُونُونَ ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
Hadis ini telah diriwayatkan atas kewibawaan Jarir b. 'Abdullah melalui rantai pemancar yang berbeda dan kata-katanya adalah

"Bahwa Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda: Barangsiapa tidak menunjukkan rahmat kepada umat, Allah Yang Maha Mulia dan Maha Mulia tidak menunjukkan rahmat kepadanya."

Comment

Kitab Keutamaan - Sahih Muslim 2319 a

Bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda: "Barangsiapa yang tidak menunjukkan belas kasihan kepada manusia, Allah, Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, tidak akan menunjukkan belas kasihan kepadanya."

Analisis Teks

Hadis yang mendalam ini menetapkan prinsip dasar timbal balik ilahi: sebagaimana seseorang memperlakukan ciptaan, demikian pula Sang Pencipta akan memperlakukan mereka. Kata-kata "manusia" (al-nās) mencakup semua manusia terlepas dari keyakinan, menunjukkan sifat universal belas kasihan.

Frasa "Allah, Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia" menekankan keagungan tertinggi Tuhan sambil secara bersamaan menyoroti sifat belas kasihan-Nya, menunjukkan bahwa bahkan dalam transendensi-Nya, Dia berhubungan dengan ciptaan melalui kasih sayang.

Implikasi Yuridis

Para ulama menyimpulkan dari hadis ini bahwa menunjukkan belas kasihan bukan hanya dianjurkan tetapi wajib, karena ketiadaannya mendatangkan murka ilahi. Ini berlaku untuk semua hubungan: penguasa terhadap rakyat, guru terhadap murid, orang tua terhadap anak, dan antara semua anggota masyarakat.

Larangan ini melampaui bahaya fisik untuk mencakup ucapan kasar, perlakuan tidak adil, dan pengabaian kebutuhan orang lain. Belas kasihan harus terwujud dalam tindakan dan niat.

Dimensi Spiritual

Tradisi ini mengungkapkan belas kasihan sebagai sifat ilahi yang harus diwujudkan manusia untuk mencapai kedekatan dengan Allah. Hati yang kosong dari belas kasihan menjadi tertutup dari rahmat ilahi, karena bagaimana seseorang dapat menerima apa yang mereka tolak untuk berikan?

Ibn Rajab al-Hanbali mencatat bahwa hadis ini menghubungkan perlakuan kita terhadap ciptaan langsung dengan perlakuan Allah terhadap kita, menjadikan belas kasihan sebagai sarana untuk mendapatkan nikmat ilahi di dunia ini dan di akhirat.

Aplikasi Praktis

Orang beriman harus menumbuhkan belas kasihan dalam semua interaksi: memaafkan kesalahan, membantu yang membutuhkan, berbicara dengan lembut, dan memberikan kelonggaran untuk kekurangan manusia. Bahkan dalam menegakkan keadilan, belas kasihan harus meredam kekakuan.

Ini termasuk belas kasihan terhadap hewan, sebagaimana tradisi otentik lainnya menunjukkan. Sifat komprehensif dari ajaran ini menjadikan belas kasihan sebagai fondasi etika Islam dan perilaku sosial.