Persamaan saya dan para Rasul di hadapan saya adalah seseorang yang membangun sebuah rumah yang cukup mengesankan dan indah dan dia membuatnya lengkap kecuali untuk satu batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang mulai berjalan mengelilinginya, dan bangunan itu menyenangkan mereka dan mereka akan berkata: Tetapi untuk batu bata ini bangunan Anda akan sempurna. Muhammad (صلى الله عليه وسلم) berkata: Dan aku adalah batu bata terakhir itu.
Kitab Kebajikan - Sahih Muslim 2286 b
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Hadis mulia ini dari Sahih Muslim menyajikan analogi mendalam mengenai finalitas kenabian dengan Nabi Muhammad (ﷺ) kita. Para ulama Islam telah menjelaskan makna-makna mendalam dan implikasinya bagi umat Muslim.
Rumah Kenabian
"Rumah" dalam analogi ini mewakili struktur lengkap bimbingan ilahi yang dikirimkan kepada umat manusia melalui semua nabi, dimulai dari Adam (عليه السلام) dan diakhiri dengan Muhammad (ﷺ). Setiap nabi berkontribusi pada bangunan spiritual ini, membangun di atas fondasi yang diletakkan oleh pendahulunya.
Keindahan dan kelengkapan yang disebutkan merujuk pada kesempurnaan pesan ilahi yang terkumpul melalui wahyu berturut-turut, namun tetap tidak lengkap sampai utusan terakhir tiba.
Batu Bata yang Hilang
Batu bata tunggal yang hilang melambangkan celah dalam rantai kenabian yang tersisa sebelum kedatangan Nabi Muhammad (ﷺ). Meskipun wahyu sebelumnya luar biasa, mereka terbatas pada bangsa tertentu atau menjadi rusak seiring waktu.
Ucapan pengamat tentang kesempurnaan bangunan kecuali satu batu bata menunjukkan bagaimana umat manusia menyadari kebutuhan akan pesan final dan universal yang akan melengkapi bimbingan ilahi untuk semua orang hingga Hari Kiamat.
Batu Bata Terakhir
Ketika Nabi (ﷺ) menyatakan "Akulah batu bata terakhir itu," ia menetapkan posisi uniknya sebagai Penutup Para Nabi (خاتم النبيين). Ini menandakan bukan hanya finalitas kronologis tetapi penyempurnaan teologis - pesan Islam menyempurnakan semua wahyu sebelumnya dan tidak memerlukan tambahan atau perubahan.
Penyempurnaan ini terwujud dalam beberapa aspek: pelestarian Al-Qur'an, universalitas pesan, sifat komprehensif hukum Islam, dan kesempurnaan bimbingan moral yang mencakup semua aspek kehidupan manusia hingga akhir zaman.
Wawasan Ilmiah
Imam An-Nawawi (رحمه الله) berkomentar bahwa hadis ini menetapkan keunggulan Nabi Muhammad (ﷺ) atas semua nabi sebelumnya, karena penyempurnaan selalu lebih unggul daripada yang mendahuluinya dalam sebuah struktur.
Ibn Hajar Al-Asqalani (رحمه الله) mencatat bahwa analogi ini menekankan bagaimana misi Nabi mengisi celah yang tersisa dalam bimbingan ilahi, membuat struktur kenabian lengkap dan sempurna, mampu bertahan dari ujian waktu dan campur tangan manusia.
Hadis ini juga mengandung indikasi halus kerendahan hati Nabi, karena ia menggunakan metafora batu bata kecil daripada fondasi atau pilar yang megah, menunjukkan bahwa meskipun perannya penting, ia tetap hamba Allah seperti semua utusan sebelumnya.