Rasulullah berdoa atas orang-orang yang telah gugur di Uhud. Dia kemudian memanjat mimbar seolah-olah seseorang sedang mengucapkan selamat tinggal kepada yang hidup dan yang mati, dan kemudian berkata: Aku akan berada di sana sebagai pendahulumu di Tangki di hadapanmu, dan itu selebar jarak antara Aila dan Juhfa (Aila berada di puncak jurang 'Aqaba). Aku tidak takut kamu akan mengasosiasikan sesuatu dengan Allah setelah aku, tetapi aku takut kamu akan (terpikat) oleh dunia dan (berebut) satu sama lain (dalam memiliki kekayaan materi) dan mulai saling membunuh, dan kamu akan dihancurkan seperti dihancurkan orang-orang yang telah pergi sebelum kamu. 'Uqba mengatakan bahwa itu adalah kesempatan terakhir dia melihat Massenger Allah di mimbar.
Kitab Keutamaan - Sahih Muslim 2296 b
Narasi ini dari Sahih Muslim menceritakan khotbah mendalam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ setelah Perang Uhud, di mana beliau menyalatkan jenazah para syuhada. Posisi Nabi ﷺ sebagai pendahulu di Hawd al-Kawthar (Kolam) menunjukkan peran perantaraannya bagi umatnya pada Hari Kiamat. Lebar yang sangat besar yang digambarkan—dari Aila hingga Juhfa—melambangkan kapasitas luas dari berkah ilahi ini, menekankan rahmat Allah yang tak terbatas melalui Rasul-Nya yang terakhir.
Tafsir Spiritual dan Moral
Pernyataan Nabi ﷺ bahwa beliau tidak takut syirik (politheisme) bagi komunitasnya tetapi persaingan duniawi mengungkapkan wawasan mendalam tentang tantangan spiritual di masa depan. Ini menunjukkan bahwa ancaman utama bagi persatuan Muslim bukanlah penyimpangan teologis tetapi obsesi material dan perselisihan internal. Referensi sejarah tentang bangsa-bangsa sebelumnya yang dihancurkan oleh konflik semacam itu berfungsi sebagai peringatan kuat tentang konsekuensi mengabaikan prioritas spiritual untuk keuntungan sementara.
Panduan Praktis untuk Umat
Hadis ini memberikan panduan abadi untuk perilaku Muslim: pertahankan kesadaran akan realitas akhirat, hindari keterikatan berlebihan pada harta duniawi, jaga harmoni komunitas, dan belajarlah dari preseden sejarah. Nada perpisahan Nabi ﷺ menekankan urgensi ajaran-ajaran ini, menjadikan khotbah ini sebagai bagian penting dari warisan spiritualnya bagi semua generasi Muslim hingga Akhir Zaman.