Engkau membacakan suatu ayat yang seandainya diturunkan kepada kami, niscaya kami anggap hari itu sebagai hari bersukacita. Kemudian Umar berkata: “Aku tahu di mana kitab itu diturunkan dan pada hari diturunkan dan di mana Rasulullah (saw) berada pada waktu itu ketika diturunkan. Itu diturunkan pada hari 'Arafa (kesembilan Dzulhijjah) dan Rasulullah (saw) telah tinggal di Arafat. Sufyan berkata: “Aku ragu, apakah itu hari Jumat atau tidak (dan ayat yang dimaksud) adalah ini: “Hari ini Aku telah menyempurnakan agamamu untukmu dan menyelesaikan nikmat-Ku atas kamu” (ayat 4).
Kitab Tafsir Al-Qur'an
Penulis: Sahih Muslim | Referensi Hadis: Sahih Muslim 3017 a
Konteks Wahyu
Narasi ini berkaitan dengan wahyu ayat yang sangat penting: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku" (Qur'an 5:3). Para sahabat menyadari signifikansi besar dari wahyu ini, hingga mereka menyatakan jika itu diwahyukan khusus tentang mereka, mereka akan menjadikan hari itu sebagai hari perayaan abadi.
Kesaksian Sejarah
Sahabat terhormat 'Umar ibn al-Khattab (semoga Allah meridainya) memberikan konteks sejarah yang tepat. Dia bersaksi bahwa ayat ini diwahyukan pada Hari 'Arafah—tanggal 9 Dzulhijjah—sementara Nabi Muhammad (ﷺ) berada di 'Arafat selama Haji Wada'.
Signifikansi Ilmiah
Ayat ini menandai penyempurnaan legislasi ilahi. Kesempurnaan agama menandakan bahwa Syariah kini lengkap, dengan semua perintah dan larangan yang diperlukan telah diwahyukan. Penyempurnaan nikmat Allah merujuk pada berkah Islam itu sendiri. Rantai narasi melalui Sufyan mencakup keraguan kecil tentang apakah itu juga hari Jumat, tetapi fakta utama lokasi dan kesempatan telah ditetapkan dengan kuat.
Implikasi Hukum dan Teologis
Wahyu ini berfungsi sebagai bukti definitif bahwa tidak ada kewajiban atau larangan agama baru yang dapat diperkenalkan setelah titik ini. Iman dan hukum Islam telah dibuat lengkap, mengharuskan umat beriman untuk mematuhi secara ketat apa yang telah diwahyukan tanpa penambahan atau pengurangan. Peristiwa ini mewakili puncak kenabian dan bimbingan ilahi kepada umat manusia.