Dia yang mengenakan sutra di dunia ini tidak akan memakainya di akhirat.
Kitab Pakaian dan Perhiasan - Sahih Muslim 2074
Barangsiapa yang mengenakan sutra di dunia ini, dia tidak akan memakainya di Akhirat.
Komentar tentang Larangan Sutra
Hadis ini menetapkan prinsip spiritual yang mendalam mengenai penggunaan pakaian sutra oleh pria Muslim. Larangan ini bukan hanya keputusan hukum tetapi membawa implikasi eskatologis, menghubungkan tindakan duniawi dengan konsekuensi abadi.
Para ulama menjelaskan bahwa sutra mewakili kemewahan, kesombongan, dan kelembutan ketika dikenakan oleh pria. Dengan menahan diri darinya di dunia sementara ini, orang beriman menyimpan pahala dan mendapatkan hak istimewa untuk mengenakan pakaian yang jauh lebih unggul di Surga. Kekurangan dalam kehidupan ini menjadi sarana untuk kenikmatan yang lebih besar di kehidupan berikutnya.
Ajaran ini mendorong umat Islam untuk memprioritaskan nilai-nilai spiritual daripada perhiasan material dan untuk menumbuhkan kepuasan dengan apa yang diizinkan. Pengecualian untuk kebutuhan medis (sebagaimana ditetapkan dalam narasi lain) menunjukkan pendekatan Islam yang seimbang, di mana kebutuhan yang sebenarnya meredam larangan umum.
Interpretasi Ilmiah
Imam An-Nawawi berkomentar bahwa larangan ini berlaku khusus untuk pria Muslim, sementara wanita diizinkan sutra karena melengkapi perhiasan alami mereka. Kebijaksanaan di balik perbedaan ini melestarikan perbedaan gender dan mencegah peniruan antara jenis kelamin.
Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan keseriusan larangan - bahwa orang yang bersikeras mengenakan sutra meskipun ada larangan akan dirampas darinya di Akhirat sebagai bentuk keadilan ilahi, sementara mereka yang menahan diri akan diberi imbalan dengan pakaian sutra yang unggul di Surga.