حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا أَبُو التَّيَّاحِ، حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ، مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
'Abdullah b. 'Amr b. al-'As dilaporkan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda

Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan merebutnya dari manusia, tetapi Dia mengambil ilmu dengan mengambil ulama, sehingga ketika Dia tidak meninggalkan orang yang terpelajar, orang berpaling kepada orang bodoh sebagai pemimpin mereka; Kemudian mereka diminta untuk menyampaikan putusan agama dan mereka membebaskannya tanpa pengetahuan, mereka tersesat, dan menyesatkan orang lain.

Comment

Kitab Pengetahuan - Sahih Muslim 2673a

Sesungguhnya, Allah tidak mengambil ilmu dengan merampasnya dari manusia, tetapi Dia mengambil ilmu dengan mengambil para ulama, sehingga ketika Dia tidak meninggalkan orang yang berilmu, orang-orang berpaling kepada orang yang bodoh sebagai pemimpin mereka; kemudian mereka diminta untuk memberikan fatwa agama dan mereka memberikannya tanpa ilmu, mereka tersesat, dan menyesatkan orang lain.

Komentar tentang Hadis

Riwayat yang mendalam dari Sahih Muslim ini menyoroti metodologi ilahi dalam penghilangan ilmu yang bermanfaat dari bumi. Allah, dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, tidak secara tiba-tiba mengeluarkan ilmu dari hati, melainkan menyebabkan wafatnya para ulama yang membawanya.

Hilangnya ulama sejati menciptakan kekosongan yang tak terhindarkan diisi oleh orang-orang bodoh yang menduduki posisi kepemimpinan. Tanpa pemahaman yang benar, mereka mengeluarkan keputusan agama berdasarkan opini dan keinginan daripada bukti yang diwahyukan.

Kesesatan ganda ini - penyimpangan mereka sendiri ditambah dengan menyesatkan orang lain - mewakili salah satu ujian terberat bagi komunitas Muslim. Ini menekankan pentingnya kritis untuk mencari ilmu dari ulama yang berkualifikasi dan bahaya besar dari berkonsultasi dengan yang tidak berilmu dalam urusan agama.

Wawasan Ulama

Imam An-Nawawi berkomentar bahwa hadis ini menekankan keutamaan ulama dan kewajiban untuk berkonsultasi dengan mereka, sambil memperingatkan terhadap mengambil ilmu dari yang tidak berkualifikasi.

Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa "pengambilan" ulama mengacu pada kematian fisik mereka dan melemahnya pengaruh dan otoritas mereka dalam masyarakat.

Nubuat ini telah disaksikan sepanjang sejarah Islam, berfungsi sebagai pengingat terus-menerus bagi komunitas untuk menghargai, mendukung, dan belajar dari ulama otentiknya.