Ada pertengkaran antara Adam dan Musa. Musa berkata kepada Adam: Engkau adalah bapa kami. Engkau menyakiti kami dan menyebabkan kami keluar dari Firdaus. Adam berkata kepadanya: Engkau adalah Musa. Allah memilih kamu (untuk percakapan langsung denganmu) dan menulis dengan tangan-Nya sendiri Kitab (Taurat) untukmu. Meskipun demikian, kamu menyalahkanku atas tindakan yang telah ditetapkan Allah untukku empat puluh tahun sebelum Dia menciptakanku. Rasul Allah (صلى الله عليه وسلم) berkata:. Beginilah cara Adam datang lebih baik dari Musa dan Adam datang lebih baik dari Musa.
Kitab Takdir - Sahih Muslim 2652a
Narasi ini dari Sahih Muslim menyajikan dialog mendalam antara dua nabi besar, Adam dan Musa, mengenai ketetapan ilahi (al-Qadr). Musa, mewakili perspektif tanggung jawab manusia, mempertanyakan Adam tentang perannya dalam pengusiran umat manusia dari Surga. Adam merespons dengan mengacu pada ketetapan ilahi yang telah ada empat puluh tahun sebelum penciptaannya.
Komentar Ilmiah tentang Dialog
Para ulama klasik menjelaskan bahwa hadis ini menetapkan doktrin Islam fundamental tentang ketetapan ilahi. Respons Adam menunjukkan bahwa meskipun tindakan manusia nyata dan memiliki konsekuensi, mereka terjadi dalam kerangka pengetahuan dan kehendak abadi Allah.
Ibn Hajar al-Asqalani berkomentar bahwa "empat puluh tahun" yang disebutkan mewakili periode ketika Allah menetapkan takdir semua ciptaan sebelum membawa mereka ke dalam keberadaan. Ini menekankan bahwa tidak ada yang terjadi di luar pengetahuan dan izin Allah.
Al-Nawawi menjelaskan bahwa argumen superior Adam terletak pada pengakuannya bahwa ketetapan ilahi mencakup semua peristiwa, sementara tanggung jawab manusia tetap utuh. Debat para nabi berfungsi untuk mendidik komunitas Muslim tentang menyeimbangkan kedua aspek iman ini.
Signifikansi Teologis
Narasi ini menyelesaikan ketegangan yang tampak antara takdir ilahi dan akuntabilitas manusia. Ini mengajarkan bahwa orang beriman harus menerima kedua realitas tanpa kontradiksi - menegaskan pengetahuan dan kendali penuh Allah atas urusan sambil mengakui pilihan dan tanggung jawab manusia.
Hadis ini juga menggambarkan etiket yang tepat dalam wacana ilmiah, di mana bahkan nabi-nabi terlibat dalam debat untuk mencapai kebenaran, dengan argumen superior yang menang melalui kebijaksanaan ilahi daripada keunggulan pribadi.