حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ، وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارِ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ، وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ، الضَّبِّيُّ جَمِيعًا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، - وَاللَّفْظُ لاِبْنِ حَاتِمٍ وَابْنِ دِينَارٍ - قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ، عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو، عَنْ طَاوُسٍ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى فَقَالَ مُوسَى يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُونَا خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنَ الْجَنَّةِ فَقَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلاَمِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَىَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَةً ‏"‏ ‏.‏ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى ‏"‏ ‏.‏ وَفِي حَدِيثِ ابْنِ أَبِي عُمَرَ وَابْنِ عَبْدَةَ قَالَ أَحَدُهُمَا خَطَّ ‏.‏ وَقَالَ الآخَرُ كَتَبَ لَكَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ ‏.‏
Terjemahan
Abu Huraira melaporkan bahwa Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda

Ada perdebatan antara Adam dan Musa, dan Adam lebih baik daripada Musa. Musa berkata kepadanya: Engkau adalah Adam yang sama yang menyesatkan orang, dan menyebabkan mereka keluar dari Firdaus. Adam berkata: Engkau adalah orang yang sama (Musa) yang Allah berkahi pengetahuan tentang segala sesuatu dan memilihnya di antara orang-orang sebagai Rasul-Nya. Dia berkata: Ya. Adam kemudian sekali lagi berkata: Bahkan saat itu kamu menyalahkan aku atas perselingkuhan yang telah ditetapkan untukku sebelum aku diciptakan.

Comment

Kitab Takdir - Sahih Muslim 2652b

Narasi ini dari Sahih Muslim menyajikan dialog mendalam antara dua nabi besar, Adam dan Musa, mengenai ketetapan ilahi (al-Qadr). Argumen ini menunjukkan bagaimana bahkan nabi-nabi merenungkan masalah teologis yang kompleks ini.

Konteks dan Signifikansi

Hadis ini muncul dalam bagian yang membahas tentang ketetapan ilahi. Pertukaran ini menyoroti bahwa kesalahan Adam di Surga adalah bagian dari pengetahuan dan ketetapan abadi Allah, bukan hanya tindakan ketidaktaatan yang spontan.

Musa, yang mewakili Hukum dan tanggung jawab, awalnya menyalahkan Adam atas pengusiran umat manusia. Tanggapan Adam menunjukkan pemahaman yang lebih unggul tentang takdir ilahi - bahwa tindakannya telah tertulis dalam pengetahuan Allah sebelum penciptaan.

Komentar Ilmiah

Ulama klasik menjelaskan bahwa kemenangan Adam dalam argumen berasal dari pengakuannya bahwa ketetapan Allah mencakup semua urusan. Sementara manusia bertanggung jawab atas pilihan mereka, pilihan ini terjadi dalam kerangka pengetahuan dan kehendak ilahi.

Imam An-Nawawi berkomentar bahwa hadis ini menetapkan prinsip keseimbangan antara ketetapan ilahi dan tanggung jawab manusia. Adam mengakui kesalahannya tetapi memahaminya dalam konteks kebijaksanaan abadi Allah.

Ibn Hajr al-Asqalani mencatat bahwa dialog ini mengajarkan kerendahan hati - bahkan nabi-nabi dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam melalui pertukaran ilmiah, dan bahwa pengetahuan tertinggi hanya milik Allah semata.

Implikasi Teologis

Narasi ini menegaskan posisi Sunni tentang Qadr: pengetahuan abadi Allah mencakup semua peristiwa, sementara manusia memiliki pilihan dan akuntabilitas yang nyata. Pembelaan Adam tidak meniadakan tanggung jawab tetapi menempatkannya dalam kebijaksanaan ilahi.

Pertukaran ini mengingatkan orang beriman untuk menghindari penilaian keras terhadap orang lain, karena kita tidak dapat melihat cakupan penuh ketetapan Allah dalam kehidupan dan tindakan orang.