Sesungguhnya, hati semua anak Adam berada di antara dua jari yang keluar dari jari-jari Tuhan yang Maha Penyayang sebagai satu hati. Dia mengubahnya ke mana pun (arah) yang Dia suka. Kemudian Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda: 0 Allah, Pembalik hati, palingkan hati kami kepada ketaatan-Mu.
Kitab Takdir - Sahih Muslim 2655
Hadis yang mendalam dari Sahih Muslim ini mengungkapkan kedaulatan mutlak Allah atas hati dan takdir manusia. Metafora hati yang berada di antara jari-jari Allah menandakan kendali dan penguasaan-Nya yang lengkap atas kecenderungan manusia dan keadaan spiritual.
Interpretasi Metaforis
"Dua jari" mewakili kekuatan sempurna Allah dan kendali lembut atas hati manusia, seperti seseorang dengan mudah memutar objek di antara jari-jari mereka. Gambaran ini menunjukkan baik otoritas mutlak Allah maupun pemerintahan-Nya yang lembut dan tepat atas ciptaan.
Frasa "sebagai satu hati" menunjukkan bahwa semua hati sama-sama tunduk pada kehendak Ilahi, terlepas dari status atau kondisi, menekankan ketundukan universal pada ketetapan Allah.
Komentar Ilmiah
Ulama klasik menjelaskan bahwa hadis ini menegaskan qadar ilahi (predestinasi) sambil mempertahankan tanggung jawab manusia. Pemutaran hati oleh Allah tidak meniadakan kehendak bebas tetapi beroperasi dalam kerangka pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya yang abadi.
Doa Nabi berikutnya mengajarkan orang beriman untuk terus-menerus mencari bimbingan Allah, mengakui ketergantungan kita pada-Nya untuk keteguhan dalam iman dan ketaatan.
Implikasi Praktis
Pengajaran ini menumbuhkan kerendahan hati, menghilangkan alasan untuk kesombongan dalam iman atau perbuatan seseorang. Ini mendorong doa yang gigih dan ketergantungan pada Allah daripada kecukupan diri.
Hadis ini memberikan penghiburan selama fluktuasi spiritual, mengingatkan orang beriman bahwa kendali tertinggi berada pada Yang Maha Penyayang, yang memutar hati menuju kebaikan dan bimbingan.