حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، - وَاللَّفْظُ لإِسْحَاقَ - قَالاَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ ابْنِ طَاوُسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَى أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَزِنَى الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَى اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ عَبْدٌ فِي رِوَايَتِهِ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ ‏.‏
Terjemahan

Abu Huraira melaporkan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda. Allah menetapkan bagian dari perzinahan yang akan dilakukan oleh manusia. Tidak akan ada jalan keluar darinya. Perzinahan mata adalah pandangan nafsu dan perzinahan telinga adalah mendengarkan yang menggairahkan (nyanyian atau ucapan) dan perzinahan lidah adalah ucapan yang tidak senonoh dan perzinahan tangan adalah cengkeraman nafsu (pelukan) dan perzinahan kaki adalah berjalan (ke tempat) di mana dia berniat untuk berzina dan hati merindukan dan keinginan yang mungkin atau mungkin tidak dia laksanakan.

Comment

Kitab Takdir - Sahih Muslim 2658a

Hadis yang mendalam dari Sahih Muslim ini membahas ketetapan ilahi (qadar) dan sifat komprehensif dosa, khususnya berfokus pada zina (zinā) dalam berbagai bentuknya. Nabi Muhammad (ﷺ) memulai dengan menetapkan bahwa Allah memiliki pengetahuan sebelumnya atas semua tindakan manusia, termasuk bagian zina yang akan dilakukan seseorang. Ini menegaskan doktrin Islam tentang takdir ilahi sambil mempertahankan tanggung jawab manusia.

Lima Kemampuan dan Pelanggarannya

Hadis ini menguraikan lima jenis zina di luar tindakan fisik: 1) Zina mata (zinat al-ʿayn) - melirik dengan penuh nafsu; 2) Zina telinga (zinat al-udhun) - mendengarkan ucapan atau lagu yang menggoda; 3) Zina lidah (zinat al-lisān) - terlibat dalam percakapan cabul; 4) Zina tangan (zinat al-yad) - sentuhan atau pelukan yang tidak pantas; 5) Zina kaki (zinat al-rijl) - berjalan menuju tempat-tempat dosa.

Peran Hati dalam Dosa dan Niat

Komponen terakhir yang disebutkan adalah keinginan dan kerinduan hati. Para ulama menjelaskan bahwa hati adalah komandan semua kemampuan - apa yang diniatkan hati, anggota tubuh melaksanakannya. Nabi membedakan antara keinginan yang tetap di hati dan yang diwujudkan. Meskipun pikiran berdosa tidak dicatat sebagai dosa lengkap kecuali dikejar, mereka berfungsi sebagai peringatan untuk mencari perlindungan Allah dan mengarahkan kembali niat seseorang.

Komentar Ulama tentang Ketetapan Ilahi

Komentator klasik menekankan bahwa pengetahuan sebelumnya Allah tidak memaksa manusia untuk berbuat dosa. Sebaliknya, Dia tahu pilihan apa yang akan kita buat dengan kehendak bebas kita. "Bagian tetap" mengacu pada pengetahuan abadi Allah, bukan takdir yang dipaksakan. Ajaran ini mendorong kewaspadaan atas semua bagian tubuh dan niat, menyadari bahwa dosa dimulai di hati sebelum terwujud melalui anggota tubuh. Sifat komprehensif dari ajaran ini berfungsi sebagai sistem perlindungan spiritual, mendesak orang beriman untuk menjaga semua jalan menuju pelanggaran.