Rasulullah, ada kebahagiaan bagi anak ini yang merupakan burung dari burung cendrawasih karena ia tidak berbuat dosa dan belum mencapai usia seseorang dapat berbuat dosa. Dia berkata: 'Aisyah, per petualangan, mungkin sebaliknya, karena Tuhan menciptakan untuk Surga mereka yang cocok untuk itu ketika mereka masih berada di pinggang ayah mereka dan menciptakan untuk neraka mereka yang akan pergi ke Neraka. Dia menciptakan mereka untuk Neraka ketika mereka masih berada di pinggang ayah mereka.
Kitab Takdir - Sahih Muslim 2662c
Riwayat ini dari Ibu Orang-Orang Beriman, 'Aisyah, mengenai seorang anak yang meninggal saat masih bayi. Dia menyampaikan pandangan bahwa anak seperti itu akan masuk Surga tanpa hisab, sebagai "burung dari burung-burung Surga" karena ketidakberdosaannya, tidak melakukan dosa dan belum mencapai usia tanggung jawab hukum (bulugh).
Koreksi Kenabian
Nabi Muhammad (semoga damai besertanya) dengan lembut memperbaiki pemahamannya, menunjukkan bahwa takdir akhir setiap jiwa, termasuk bayi, telah tertulis di Lauh Mahfuz berdasarkan pengetahuan dan ketetapan Allah sebelumnya (al-Qadr).
Dia menjelaskan bahwa Allah menciptakan penghuni Surga dan penghuni Neraka di tulang sulbi nenek moyang mereka Adam, menetapkan tempat tinggal akhir mereka berdasarkan pengetahuan-Nya yang abadi tentang apa yang akan mereka pilih dan bagaimana akhirnya mereka akan menjadi.
Komentar Ulama tentang Ketetapan Ilahi
Hadis ini menetapkan pilar iman yang mendasar: kepercayaan pada Ketetapan Ilahi (al-Qadr), baik yang baik maupun yang buruk. Ini menegaskan bahwa pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu sebelum mereka ada.
Para ulama menjelaskan bahwa bayi yang meninggal akan diuji pada Hari Kebangkitan. Mereka yang ditakdirkan untuk Surga akan diberi akal untuk lulus ujian, sementara mereka yang ditakdirkan untuk Neraka akan gagal. Ujian ini adalah perwujudan dari ketetapan Allah yang telah ditetapkan sebelumnya, sebagaimana penciptaan mereka.
Ini tidak menyiratkan ketidakadilan dari Allah, karena Dia adalah Yang Maha Adil. Sebaliknya, ini menegaskan kebijaksanaan dan kedaulatan-Nya yang mutlak. Ketetapan-Nya didasarkan pada pengetahuan-Nya yang sempurna tentang sifat bawaan (fitrah) dan potensi akhir setiap jiwa yang Dia ciptakan.