حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَسَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
Anas melaporkan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda

Jika anak Adam memiliki dua lembah kekayaan. dia akan merindukan yang ketiga. Dan perut anak Adam tidak dipenuhi melainkan debu. Dan Allah kembali kepada orang yang bertaubat.

Comment

Kitab Zakat - Sahih Muslim 1048a

Jika anak Adam memiliki dua lembah kekayaan, dia akan menginginkan yang ketiga. Dan perut anak Adam tidak terisi kecuali dengan debu. Dan Allah kembali kepada siapa yang bertobat.

Komentar tentang Sifat Manusia

Hadis yang mendalam ini mengungkapkan ketidakpuasan bawaan dari keinginan manusia terhadap harta duniawi. Metafora "dua lembah kekayaan" menandakan kekayaan yang melimpah, namun sifat manusia mendorongnya untuk mencari yang ketiga, menunjukkan bahwa perolehan duniawi tidak pernah memuaskan hati manusia.

Frasa "perut tidak terisi kecuali dengan debu" membawa makna ganda: secara harfiah merujuk pada tanah kubur yang pada akhirnya menerima setiap manusia, dan secara metaforis menunjukkan bahwa pencarian duniawi pada akhirnya kosong dan tidak memuaskan dibandingkan dengan nutrisi spiritual.

Implikasi Spiritual

Ajaran ini berfungsi sebagai pengingat yang kuat terhadap keterikatan berlebihan pada kekayaan materi dan pentingnya kepuasan (qana'ah). Keinginan konstan untuk lebih banyak mengalihkan perhatian dari mengingat Allah dan mengejar imbalan abadi.

Frasa penutup "Allah kembali kepada siapa yang bertobat" menawarkan rahmat dan harapan ilahi, menunjukkan bahwa pengakuan atas kelemahan manusia ini dan kembali kepada Allah melalui tobat yang tulus selalu diterima.

Aplikasi Praktis

Para ulama menyimpulkan dari ini bahwa umat Islam harus menumbuhkan rasa syukur atas apa yang mereka miliki dan mengarahkan energi mereka untuk memperoleh kekayaan spiritual melalui tindakan ibadah, amal, dan akhlak yang baik.

Hadis ini khususnya berkaitan dengan zakat dengan menyoroti bahaya menimbun kekayaan dan pentingnya memurnikan harta seseorang melalui amal wajib, sehingga memutus siklus keinginan materi yang tak berujung.