Kekayaan tidak terletak pada kelimpahan barang (duniawi) tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa (hati, diri).
Kitab Zakat - Sahih Muslim 1051
"Kekayaan tidak terletak pada kelimpahan barang (duniawi) tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa (hati, diri)."
Komentar tentang Hadis
Narasi mendalam dari Nabi Muhammad (semoga damai besertanya) ini mendefinisikan ulang konsep kekayaan dan kemiskinan. Makna yang tampak menunjukkan bahwa kekayaan sejati tidak diukur dengan harta benda tetapi dengan kepuasan dan kekayaan spiritual dari batin seseorang.
"Kekayaan jiwa" mengacu pada hati yang puas dengan apa yang telah ditetapkan Allah, bebas dari keserakahan dan ketamakan. Orang seperti itu, bahkan dengan sarana duniawi yang minimal, benar-benar kaya karena mereka tidak merasa membutuhkan apa yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, seseorang dengan kekayaan melimpah tetapi jiwa yang tidak pernah puas tetap dalam keadaan kemiskinan abadi.
Ajaran ini mengalihkan pencarian Muslim dari akumulasi materi ke pengembangan spiritual. Kekayaan terbesar adalah iman (iman), kepuasan (qana'ah), dan rasa syukur (shukr). Ketika jiwa kaya dengan kualitas-kualitas ini, fluktuasi duniawi tidak dapat mengganggu kedamaian seseorang.
Implikasi Praktis
Hadis ini mengajarkan kita untuk mengukur kekayaan kita berdasarkan kebutuhan daripada keinginan. Orang beriman harus berusaha untuk mencapai apa yang cukup (kifayah) sambil memupuk kepuasan batin.
Ini juga berhubungan langsung dengan zakat - ketika seseorang memahami bahwa kekayaan sejati adalah spiritual, memberi dari kekayaan materi menjadi lebih mudah, menyadari bahwa pemberian seperti itu meningkatkan daripada mengurangi kekayaan sejati seseorang.
Pencarian ilmu, akhlak baik, dan kesadaran spiritual merupakan modal sejati yang bermanfaat di dunia ini dan di akhirat.