حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَابْنُ، بَشَّارٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، قَالَ كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَأْمُرُ بِالْمُتْعَةِ وَكَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَنْهَى عَنْهَا قَالَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ عَلَى يَدَىَّ دَارَ الْحَدِيثُ تَمَتَّعْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ يُحِلُّ لِرَسُولِهِ مَا شَاءَ بِمَا شَاءَ وَإِنَّ الْقُرْآنَ قَدْ نَزَلَ مَنَازِلَهُ فَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللَّهُ وَأَبِتُّوا نِكَاحَ هَذِهِ النِّسَاءِ فَلَنْ أُوتَى بِرَجُلٍ نَكَحَ امْرَأَةً إِلَى أَجَلٍ إِلاَّ رَجَمْتُهُ بِالْحِجَارَةِ ‏.‏
Terjemahan
Abu Nadra melaporkan

Ibnu 'Abbas memerintahkan pelaksanaan Mut'a yang berihram untuk 'Umrah selama bulan-bulan Dzulhijjah dan setelah menyelesaikannya. kemudian mengenakan Ihram untuk haji), tetapi Ibnu Zubair melarang untuk melakukannya. Saya menyebutkannya kepada Jabir b. Abdullih dan dia berkata: Melalui aku hadis ini telah diedarkan. Kami masuk ke dalam keadaan Ihram sebagai Tamattu' bersama Rasulullah (صلى الله عليه وسلم). Ketika 'Umar dilantik sebagai Khalifah, dia berkata: Sesungguhnya Allah mengizinkan Rasul-Nya (صلى الله عليه وسلم) apa pun yang Dia sukai dan sesuka Re. Dan (setiap perintah) Al-Qur'an telah diturunkan untuk setiap kesempatan. Maka laksanakanlah haji dan umrah bagi Allah seperti yang diperintahkan Allah kepadamu; dan meneguhkan dengan (syarat-syarat yang tepat) pernikahan wanita-wanita itu (dengan siapa kamu telah melakukan Mut'a). Dan siapa pun akan datang kepadaku dengan pernikahan dengan jangka waktu yang ditentukan (Mut'a), aku akan melempari dia (sampai mati).