Maka bersin dan kamu berkata: “Semoga Allah mengasihani kamu.” Saya juga bersin tetapi Anda tidak mengucapkan kata-kata ini untuk saya. Kemudian Nabi berkata: “Orang itu memuji Allah, dan kamu tidak memuji Allah.”
Kitab Zuhd dan Pelembutan Hati
Sahih Muslim - Hadis 2991a
Teks Hadis
"Si anu bersin dan kamu berkata: Semoga Allah merahmatimu. Aku juga bersin tetapi kamu tidak mengucapkan kata-kata ini untukku. Kemudian dia (Nabi Suci) berkata: Orang itu memuji Allah, dan kamu tidak memuji Allah."
Komentar Ilmiah
Hadis mulia ini menetapkan etika Islam dalam menanggapi bersin. Nabi (ﷺ) mengajarkan kita bahwa tanggapan "Yarhamukallah" (Semoga Allah merahmatimu) bergantung pada si bersin mengucapkan "Alhamdulillah" (Segala puji bagi Allah) terlebih dahulu.
Hikmah di balik ajaran ini mendalam: ketika seseorang bersin dan memuji Allah, mereka mengakui rahmat Allah dalam kelegaan dan pengeluaran zat berbahaya dari tubuh mereka. Tindakan mengingat ini pantas mendapat rahmat ilahi sebagai balasannya.
Keluhan sahabat mengungkapkan harapannya untuk diperlakukan sama, tetapi Nabi (ﷺ) membetulkannya dengan menjelaskan penyebab spiritual di balik perbedaan yang tampak. Ini mengajarkan kita bahwa tindakan lahiriah dalam Islam terhubung dengan keadaan dan niat batin.
Para ulama menyimpulkan dari ini bahwa memuji Allah setelah bersin adalah sunnah, dan menanggapi dengan rahmat adalah wajib setelah mendengar pujian. Jika si bersin gagal memuji Allah, pendengar tidak diwajibkan untuk menanggapi.
Pelajaran Spiritual
Insiden ini menunjukkan bagaimana Nabi (ﷺ) menggunakan kejadian sehari-hari untuk mengajarkan kebenaran spiritual yang mendalam tentang rasa syukur, mengingat ilahi, dan hubungan antara tindakan kita dan konsekuensi spiritualnya.
Ini mengingatkan orang beriman bahwa berkah dan tanggapan ilahi terkait dengan kesadaran kita akan Allah dan ekspresi rasa syukur kita. Hadis ini melembutkan hati dengan menunjukkan bagaimana bahkan tindakan kecil dapat menjadi ibadah ketika dilakukan dengan niat yang tepat dan mengingat Allah.