أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي جَمْرَةَ، قَالَ كُنْتُ أُتَرْجِمُ بَيْنَ ابْنِ عَبَّاسٍ وَبَيْنَ النَّاسِ فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ تَسْأَلُهُ عَنْ نَبِيذِ الْجَرِّ، فَنَهَى عَنْهُ . قُلْتُ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّي أَنْتَبِذُ فِي جَرَّةٍ خَضْرَاءَ نَبِيذًا حُلْوًا فَأَشْرَبُ مِنْهُ فَيُقَرْقِرُ بَطْنِي . قَالَلاَ تَشْرَبْ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ .
Terjemahan
Diriwayatkan bahwa Abu Hamzah berkata
"Saya dulu menafsirkan antara Ibnu 'Abbas dan orang-orang. Seorang wanita datang kepadanya dan bertanya kepadanya tentang Nabidh yang dibuat dalam guci gerabah, dan dia melarangnya. Aku berkata: 'Wahai Abu 'Abbas, aku membuat Nabidh yang manis dalam guci gerabah hijau; ketika saya meminumnya, perut saya mengeluarkan suara.' Dia berkata: 'Jangan meminumnya meskipun itu lebih manis dari madu.'"