Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Khalid al-Hadzdza', dari Abu Qilabah, dari Anas bin Malik, dia berkata: Ketika manusia semakin banyak, mereka menyebutkan bahwa mereka ingin mengetahui waktu salat dengan sesuatu yang mereka kenali. Maka mereka menyebutkan untuk menyalakan api atau memukul lonceng. Maka Bilal diperintahkan untuk menggenapkan (membaca dua kali) azan dan mengganjilkan (membaca satu kali) iqamah.
Konteks Historis Adzan
Narasi ini dari Sahih al-Bukhari 606 menggambarkan bimbingan ilahi yang datang untuk menyelesaikan dilema komunitas mengenai waktu salat. Umat Muslim mencari metode yang khas yang akan membedakan mereka dari komunitas agama lain - bukan api kaum musyrik maupun lonceng umat Kristen.
Inspirasi Ilahi
Allah mengilhami Nabi Muhammad (semoga damai besertanya) melalui penglihatan kepada Abdullah bin Zaid, yang melihat seorang pria membawa lonceng. Ketika dia menyatakan keinginan untuk membelinya untuk memanggil salat, malaikat mengajarinya kata-kata Adzan sebagai gantinya. Nabi mengonfirmasi ini sebagai penglihatan yang benar dan memerintahkan Bilal, yang memiliki suara terindah, untuk mengumandangkan Adzan.
Kebijaksanaan dalam Kata-kata
Adzan dimulai dengan "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar) empat kali, menetapkan Tauhid sebagai fondasi. Kesaksian iman ganda menekankan keyakinan inti Islam. Frasa khusus ini membedakan praktik Muslim sambil menyampaikan kebenaran teologis penting kepada pendengar.
Perbedaan Antara Adzan dan Iqamah
Adzan dikumandangkan dua kali untuk setiap frasa untuk menjangkau pendengar yang jauh, sementara Iqamah dibacakan sekali karena ditujukan kepada mereka yang sudah hadir di masjid. Perbedaan praktis ini melayani tujuan komunal dan spiritual dari panggilan salat.