Kami pernah berada di sisi Aisyah – radhiyallahu 'anha – dan kami menyebutkan tentang menjaga (keistiqomahan) shalat dan mengagungkannya. Ia berkata: Ketika Rasulullah – shallallahu 'alaihi wa sallam – sakit dengan sakit yang menyebabkan beliau wafat, dan waktu shalat tiba serta adzan dikumandangkan, beliau bersabda: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami orang-orang.” Dikatakan kepada beliau: “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut hatinya; apabila dia berdiri di tempatmu, dia tidak akan mampu mengimami orang-orang.” Beliau mengulangi (perintahnya), dan mereka mengulangi (jawaban itu) kepadanya. Beliau mengulangi untuk ketiga kalinya dan bersabda: “Sungguh kalian adalah (seperti) sahabat-sahabat Yusuf. Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami orang-orang.” Maka Abu Bakar keluar lalu mengimami shalat. Nabi – shallallahu 'alaihi wa sallam – mendapati keringanan (sehat) pada dirinya, maka beliau keluar dengan ditopang oleh dua orang laki-laki, seakan-akan aku melihat kedua kaki beliau terseret di tanah karena sakit. Abu Bakar hendak mundur, tetapi Nabi – shallallahu 'alaihi wa sallam – memberi isyarat kepadanya agar tetap di tempatnya. Kemudian beliau dibawa hingga duduk di sampingnya. Ditanyakan kepada Al-A'masy: “Apakah Nabi – shallallahu 'alaihi wa sallam – shalat dan Abu Bakar mengikuti shalatnya, dan orang-orang mengikuti shalat Abu Bakar?” Maka ia menganggukkan kepalanya: “Ya.” Abu Dawud meriwayatkannya dari Syu'bah dari Al-A'masy sebagian darinya. Dan Abu Mu'awiyah menambahkan: “Beliau duduk di sebelah kiri Abu Bakar, sedangkan Abu Bakar shalat dengan berdiri.”
Panggilan untuk Sholat (Adzan)
Sahih al-Bukhari - Hadis 664
Konteks Historis
Riwayat ini dari Aisyah (semoga Allah meridhainya) menggambarkan penyakit terakhir Nabi Muhammad (semoga damai besertanya) dan menetapkan pentingnya kritis untuk mempertahankan sholat berjamaah bahkan selama masa kesulitan yang parah.
Komentar Ilmiah
Desakan Nabi agar Abu Bakar memimpin sholat menunjukkan perlunya menjaga jamaah sholat dan pentingnya kepemimpinan yang berkualitas. Pernyataannya "Kalian adalah sahabat-sahabat Yusuf" merujuk pada sifat emosional wanita, mengakui kekhawatiran mereka sambil menegaskan validitas perintah tersebut.
Kondisi fisik Nabi, yang memerlukan dukungan dari dua orang dengan kakinya terseret, menggambarkan pentingnya tertinggi sholat sehingga bahkan penyakit parah tidak dapat membebaskan pelaksanaannya dalam jamaah ketika memungkinkan.
Posisi Abu Bakar sebagai pemimpin sholat selama masa hidup Nabi menetapkan prioritas dan kesesuaiannya untuk kepemimpinan setelah wafatnya Nabi, berfungsi sebagai indikasi ilahi yang halus tentang kekhalifahannya di masa depan.
Keputusan Hukum yang Diperoleh
Seorang pemimpin sholat dapat terus memimpin sholat bahkan jika seseorang yang lebih berkualifikasi bergabung dengan jamaah, seperti yang ditunjukkan ketika Nabi tidak menggantikan Abu Bakar saat tiba.
Diperbolehkan bagi seseorang untuk sholat sambil duduk sambil memimpin orang lain yang berdiri, dan bagi jamaah untuk mengikuti seseorang dalam posisi fisik yang berbeda, menetapkan fleksibilitas dalam kepemimpinan sholat.
Orang yang sakit dapat sholat dalam posisi apa pun yang dapat mereka kelola, dan jamaah harus mengakomodasi kondisi imam mereka sambil mempertahankan formasi sholat yang tepat.